Karier di Balik Layar
Selain akting, Lola Amaria aktif berkarya di balik layar. Debutnya sebagai produser dimulai lewat Novel Tanpa Huruf R (2003), sementara debut penyutradaraannya melalui film Betina (2006), yang meraih Netpac Award di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) dan diputar di Festival Film Internasional Singapura.
Dikutip dari Filmindonesia.or.id, Lola mendirikan Lola Amaria Production pada 2011, memproduksi film-film bertema sosial dan kemanusiaan, termasuk Sanubari Jakarta (2012), Kisah 3 Titik (2013), Inerie (2014), dan Negeri Tanpa Telinga (2014).
Beberapa karya lain yang ia sutradarai dan produksi meliputi Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Labuan Hati (2017), Lima (2018), 6.9 Detik (2019), Pesantren (2022), hingga film dokumenter Eksil (2022) yang memenangkan JAFF Indonesian Screen Awards untuk Film Terbaik.
Meski beberapa filmnya dipandang kurang komersial, Lola tetap konsisten pada idealismenya. Dikutip dari Parapuan, ia menegaskan, “Kalau baik buat saya, saya enggak peduli orang mau ngomong apa. Ada yang bilang ngapain bikin film idealis, ngapain sih kan enggak laku. Tapi emang mereka bayarin hidup gue apa? Se-simple itu sih”.
Penghargaan dan Nominasi
Sepanjang kariernya, Lola Amaria telah menerima berbagai penghargaan dan nominasi, di antaranya Festival Film Indonesia: Nominasi Sutradara Terbaik (Minggu Pagi di Victoria Park, 2011); Festival Film Bandung: Nominasi Pemeran Utama Wanita Terpuji (Minggu Pagi di Victoria Park, 2011); Sutradara Terpuji (Jingga, 2016); Jogja-NETPAC Asian Film Festival: Pemenang JAFF Indonesian Screen Awards – Film Terbaik (Eksil, 2022); dan Festival Film Wartawan Indonesia 2025: Aktris Pendukung Terbaik (Gowok: Kamasutra Jawa).
Pesan untuk Perempuan
Dikutip dari Wolipop, Lola menekankan pentingnya perempuan memiliki sikap tegas dan percaya diri dalam mengambil keputusan. Ia mengingatkan bahwa kepercayaan diri dan keunikan individu adalah kekuatan utama.
“Perempuan Indonesia harus tetap menjadi diri sendiri dan percaya diri, tanpa kehilangan jati diri hanya demi memenuhi ekspektasi sosial,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya kecerdasan dan prinsip hidup agar perempuan dihargai di lingkungan sosial maupun profesional. “
"Kalau enggak pintar akan selalu jadi korban, tidak dihargai baik kerja kerasnya atau di lingkungannya. Kalau pintar bisa menempatkan diri pasti akan berbeda,” ujar Lola.
Hal Menarik Lainnya
Selain dunia film, Lola aktif di kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia juga menjalankan bisnis kuliner Lola’s Cooking, membuktikan bahwa kreativitasnya tidak terbatas pada satu bidang saja.
Kemudian, dikutip dari pesona.co.id, meski dulu bercita-cita menjadi diplomat, Lola menyadari bahwa dunia film memberinya kesempatan menjelajah dunia internasional melalui festival film.
Lola juga termasuk pribadi yang terbuka terhadap pembelajaran baru. Dalam proses syuting Gowok: Kamasutra Jawa, misalnya, Lola mempelajari bahasa Ngapak demi mendalami karakternya.
“Saya berniat bukan sekadar jadi sutradara, tapi jadi sutradara dengan idealisme,” tegas Lola.
Baca Juga: Profil Sartri Dania Sulfiati, Sutradara Perempuan Serba Bisa di Balik Deretan Film Ikonik Indonesia