Publik tentu tidak asing dengan sosok Lola Amaria, yang dulu kerap menghiasi layar kaca lewat kemampuan aktingnya. Kini, Lola lebih dikenal sebagai sutradara dan produser film.

Perjalanan karier Lola menunjukkan konsistensi dan idealisme dalam berkarya, bahkan ketika industri perfilman tidak selalu memberikan ruang yang mudah bagi film-filmnya.

Sebagai salah satu figur perempuan paling berpengaruh di perfilman Indonesia, Lola tidak hanya dikenal karena aktingnya, tetapi juga sebagai sosok kreatif yang menginspirasi banyak perempuan untuk menapaki dunia industri kreatif dengan keberanian dan prinsip kuat.

Dan, berikut Olenka ulas profil singkat Lola Amaria, dikutip dari berbagai sumber, Minggu (8/2/2026).

Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Dikutip dari Wikipedia, Lola Amaria, lahir di Jakarta pada 30 Juli 1977. Ia merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara. Ia lahir dari pasangan Anas Maliki dan Yayan Bunyani.

Dari keluarga sederhana, Lola tumbuh dengan pendidikan yang menekankan kejujuran dan kerja keras.

“Kalau ingin sesuatu, kami harus tunjukkan prestasi dulu. Misalnya ingin sepatu baru, nilai ulangan harus bagus,” kenangnya kepada pesona.co.id.

Meski dikenal luas sebagai figur publik di dunia perfilman Indonesia, informasi mengenai kehidupan pribadi Lola, termasuk keluarga dan hubungan asmaranya, tidak banyak dipublikasikan karena ia cenderung menjaga privasi dari sorotan media.

Di luar kesibukannya sebagai aktris, sutradara, dan produser, Lola Amaria juga diketahui aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan sebagai bentuk kepeduliannya terhadap isu-isu sosial di masyarakat.

Selain berkarya di dunia film, Lola juga menyalurkan bakat memasaknya melalui bisnis kuliner bernama Lola’s Cooking, meski aktivitasnya terakhir kali terlihat pada April 2024.

Jejak Pendidikan

Lola tercatat pernah menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 6 Jakarta sebelum melanjutkan studi di Universitas Trisakti. Ia pernah bercita-cita menjadi diplomat, terinspirasi dari keluarga teman masa kecilnya, namun akhirnya mengikuti kata hati untuk menekuni dunia film.

Dikutip dari Liputan6.com, Lola menjelaskan, “Jadi ikutin kata hati, oke saya mau ke film, orangtua saya nggak setuju saya di film. Semua learning by doing.”

Dari Model ke Dunia Akting

Perjalanan karier Lola dimulai di dunia modeling. Dikutip dari Viva, ia meraih gelar juara dalam ajang Wajah Femina 1997, yang membukakan pintu masuk ke industri hiburan. Tawaran iklan pun berdatangan, termasuk menjadi bintang iklan sampo ternama.

Debut aktingnya terjadi lewat sinetron Penari garapan Nan Triveni Achnas, di mana ia memerankan tokoh Sila, seorang penari erotis. Kesuksesan tersebut membuka jalan bagi perannya dalam sinetron populer lainnya seperti Arjuna Mencari Cinta, Tali Kasih, dan Merah Hitam Cinta.

Jejak Karier di Dunia Film

Lola memulai karier layar lebarnya pada usia 23 tahun melalui film Tabir (2000). Ia kemudian membintangi sejumlah film lain, termasuk Dokuritsu, Beth (2001), Merdeka 17805 (2001), dan Ca Bau Kan (2002). Dikutip dari Sidiksi.com, film lain yang ia perankan antara lain Novel Tanpa Huruf R (2003), Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Kisah 3 Titik (2013), dan Gowok: Kamasutra Jawa (2025).

Terbaru, Lola pun kembali ke dunia akting melalui Gowok: Kamasutra Jawa. Film ini menandai vakumnya selama 12 tahun. Dalam film ini, ia berperan sebagai Nyai Santi, seorang guru seks tradisional Jawa, yang membawa film tersebut ke ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025.

Dikutip dari Suara.com, Lola menyebut film ini menarik karena temanya yang seksi, universal, dan unik, sekaligus menonjolkan eksistensi perempuan dalam rumah tangga.

Baca Juga: Mengenal Kamila Andini, Sutradara Perempuan Indonesia yang Bersinar di Kancah Dunia

Karier di Balik Layar

Selain akting, Lola Amaria aktif berkarya di balik layar. Debutnya sebagai produser dimulai lewat Novel Tanpa Huruf R (2003), sementara debut penyutradaraannya melalui film Betina (2006), yang meraih Netpac Award di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) dan diputar di Festival Film Internasional Singapura.

Dikutip dari Filmindonesia.or.id, Lola mendirikan Lola Amaria Production pada 2011, memproduksi film-film bertema sosial dan kemanusiaan, termasuk Sanubari Jakarta (2012), Kisah 3 Titik (2013), Inerie (2014), dan Negeri Tanpa Telinga (2014).

Beberapa karya lain yang ia sutradarai dan produksi meliputi Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Labuan Hati (2017), Lima (2018), 6.9 Detik (2019), Pesantren (2022), hingga film dokumenter Eksil (2022) yang memenangkan JAFF Indonesian Screen Awards untuk Film Terbaik.

Meski beberapa filmnya dipandang kurang komersial, Lola tetap konsisten pada idealismenya. Dikutip dari Parapuan, ia menegaskan, “Kalau baik buat saya, saya enggak peduli orang mau ngomong apa. Ada yang bilang ngapain bikin film idealis, ngapain sih kan enggak laku. Tapi emang mereka bayarin hidup gue apa? Se-simple itu sih”.

Penghargaan dan Nominasi

Sepanjang kariernya, Lola Amaria telah menerima berbagai penghargaan dan nominasi, di antaranya Festival Film Indonesia: Nominasi Sutradara Terbaik (Minggu Pagi di Victoria Park, 2011); Festival Film Bandung: Nominasi Pemeran Utama Wanita Terpuji (Minggu Pagi di Victoria Park, 2011); Sutradara Terpuji (Jingga, 2016); Jogja-NETPAC Asian Film Festival: Pemenang JAFF Indonesian Screen Awards – Film Terbaik (Eksil, 2022); dan Festival Film Wartawan Indonesia 2025: Aktris Pendukung Terbaik (Gowok: Kamasutra Jawa).

Pesan untuk Perempuan

Dikutip dari Wolipop, Lola menekankan pentingnya perempuan memiliki sikap tegas dan percaya diri dalam mengambil keputusan. Ia mengingatkan bahwa kepercayaan diri dan keunikan individu adalah kekuatan utama.

“Perempuan Indonesia harus tetap menjadi diri sendiri dan percaya diri, tanpa kehilangan jati diri hanya demi memenuhi ekspektasi sosial,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya kecerdasan dan prinsip hidup agar perempuan dihargai di lingkungan sosial maupun profesional. “

"Kalau enggak pintar akan selalu jadi korban, tidak dihargai baik kerja kerasnya atau di lingkungannya. Kalau pintar bisa menempatkan diri pasti akan berbeda,” ujar Lola.

Hal Menarik Lainnya

Selain dunia film, Lola aktif di kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia juga menjalankan bisnis kuliner Lola’s Cooking, membuktikan bahwa kreativitasnya tidak terbatas pada satu bidang saja.

Kemudian, dikutip dari pesona.co.id, meski dulu bercita-cita menjadi diplomat, Lola menyadari bahwa dunia film memberinya kesempatan menjelajah dunia internasional melalui festival film.

Lola juga termasuk pribadi yang terbuka terhadap pembelajaran baru. Dalam proses syuting Gowok: Kamasutra Jawa, misalnya, Lola mempelajari bahasa Ngapak demi mendalami karakternya.

“Saya berniat bukan sekadar jadi sutradara, tapi jadi sutradara dengan idealisme,” tegas Lola.

Baca Juga: Profil Sartri Dania Sulfiati, Sutradara Perempuan Serba Bisa di Balik Deretan Film Ikonik Indonesia