Deretan film box office Indonesia dalam dua dekade terakhir hampir selalu bersinggungan dengan nama Gina S. Noer.

Di balik kisah-kisah yang menyentuh jutaan penonton, mulai dari Ayat-ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, Habibie & Ainun, hingga Dua Garis Biru, berdiri sosok penulis skenario dan sutradara yang konsisten menghadirkan cerita-cerita kuat tentang keluarga, cinta, dan pergulatan hidup manusia modern Indonesia.

Tak hanya sukses secara komersial, karya-karya Gina juga kerap memicu diskusi sosial dan memberi warna baru bagi perfilman nasional.

Lantas, bagaimana perjalanan karier Gina S. Noer hingga mampu menempatkan dirinya sebagai salah satu sineas paling berpengaruh di Indonesia saat ini? Simak profil dan kiprahnya berikut ini, sebagaimana Olenka rangkum dari berbagai sumber, Kamis (4/2/2026).

Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Dikutip dari Orami, Gina memiliki nama lengkap Retna Ginatri S. Noer dan lahir di Balikpapan pada 24 Agustus 1985. Ia merupakan putri pasangan H. Masjkur Noer dan Hj. Martawiyah, serta memiliki seorang saudara kandung.

Gina menikah dengan sesama sineas, Salman Aristo, pada 2006. Salman Aristo sendiri dikenal sebagai penulis skenario sejumlah film populer seperti Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, dan Catatan Akhir Sekolah. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak, Biru Langit Fatiha dan Akar Randu Furqan.

Di tengah kesibukan produksi film, Gina berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Ia juga dikenal sebagai pecinta kucing dan memelihara beberapa kucing di rumahnya.

Perjalanan menjadi ibu juga memberi pelajaran penting dalam hidupnya. Dikutip dari Orami, Gina pernah mengalami masa berat ketika mengetahui anak keduanya akan lahir dengan kondisi bibir sumbing.

Proses menerima kondisi tersebut hingga mencari pengobatan terbaik membuatnya kemudian ikut mendirikan Komunitas Satu Senyum (KiSS) pada 2013, sebagai ruang dukungan bagi keluarga dengan anak celah bibir dan langit-langit.

Jejak Pendidikan dan Awal Ketertarikan pada Cerita

Gina menempuh pendidikan di Universitas Indonesia pada jurusan Broadcasting dan Mass Communication. Lingkungan pendidikan ini turut membentuk fondasi kariernya di industri kreatif.

Sejak remaja, Gina sudah gemar membaca novel dan menonton film. Dikutip dari Orami, kebiasaan membaca cerita remaja internasional membentuk kecintaannya pada dunia narasi, yang kelak menjadi landasan kuat kariernya sebagai penulis skenario.

Awal Karier dan Perjalanan di Industri Film

Dikutip dari Wikipedia, perjalanan profesional Gina dimulai pada 2004 saat film pendeknya Ladies Room memenangkan Close Up Movie Competition. Kemenangan tersebut membuka jalan bagi kariernya sebagai penulis skenario.

Film panjang pertamanya sebagai penulis adalah Foto, Kotak Jendela pada 2006. Namanya kemudian melambung setelah menulis skenario Ayat-Ayat Cinta (2008) bersama Salman Aristo, yang ditonton lebih dari 3,5 juta orang dan menjadi fenomena nasional.

Kesuksesan berlanjut melalui film Perempuan Berkalung Sorban yang memicu diskusi luas mengenai isu perempuan dan pesantren, serta Hari untuk Amanda. Pencapaian besar lainnya hadir melalui Habibie & Ainun (2012), yang meraih hampir 4,5 juta penonton dan mengantarkannya meraih penghargaan Penulis Skenario Terbaik di Festival Film Indonesia 2013.

Baca Juga: Mengenal Kamila Andini, Sutradara Perempuan Indonesia yang Bersinar di Kancah Dunia