Dan, di tengah tren penggunaan skincare berlapis-lapis, dr. Stanley mengingatkan bahwa jumlah produk yang digunakan tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan kulit.

"Kalau untuk kulit secara keseluruhan, saya rasa tidak perlu berbeli-belit, menumpuk produk-produk yang diaplikasikan. Banyaknya skincare tidak akan berbanding lurus juga dengan sehatnya kulit," tegasnya.

Ia menyarankan masyarakat lebih fokus memilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit dibanding sekadar mengikuti tren atau menggunakan terlalu banyak tahapan perawatan.

Adapun, salah satu bahan aktif yang menurut dr. Stanley cukup fleksibel digunakan adalah niacinamide. Kandungan ini dapat membantu berbagai kondisi kulit, mulai dari kulit berjerawat hingga kulit berminyak maupun kering.

"Kalau misalnya ada jerawat ringan, kita pakai serum niacinamide pagi dan malam hari itu membantu. Bahkan kalau kulitnya cenderung berjerawat tapi juga kering, ataupun kulit berminyak, niacinamide juga bisa jadi salah satu pilihan," ujarnya.

Hal tersebut membuat niacinamide menjadi salah satu bahan aktif yang cukup serbaguna dalam rutinitas skincare, selama penggunaannya tetap disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Kemudian, dr. Stanley mengungkapkan bahwa meski rutin melakukan perawatan kulit, ia mengingatkan ada satu kebiasaan yang dapat merusak kesehatan kulit secara signifikan, yakni merokok.

Saat ditanya mengenai kebiasaan yang paling berdampak buruk terhadap kulit, ia menjawab singkat namun tegas, yakni merokok.

Bahkan, menurutnya, penggunaan skincare yang lengkap sekalipun tidak mampu mengimbangi dampak buruk rokok terhadap kulit.

"Walaupun perawatan sudah maksimal, tapi kalau merokok itu tetap bisa berpengaruh negatif. Rusak," pungkas dr. Stanley.

Baca Juga: Dokter Estetika Ungkap Ciri Filler Berkualitas, Tidak Mudah Bermigrasi dan Tetap Natural