Industri estetika terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap prosedur peremajaan wajah yang aman dan efektif. Salah satu tindakan yang masih menjadi favorit adalah penggunaan filler berbahan dasar hyaluronic acid (HA). Namun, di tengah popularitasnya, filler juga kerap dihadapkan pada berbagai stigma negatif, mulai dari risiko migrasi hingga hasil wajah yang tampak tidak alami.

Menanggapi hal tersebut, Aesthetic Medicine Expert sekaligus Pendiri Privee Clinic, dr. Almond Wibowo, M.Biomed (AAM), menilai masih banyak kesalahpahaman yang beredar di masyarakat, termasuk mengenai kualitas filler asal Korea.

Menurut dr. Almond, selama ini terdapat anggapan bahwa filler Eropa identik dengan produk premium, sementara filler Korea dianggap memiliki kualitas yang lebih rendah.

"Di pasaran kita banyak sekali istilah filler Eropa dan filler Korea. Orang selalu bilang filler Eropa adalah high-end filler, sedangkan filler Korea dianggap low-end filler. Padahal Lorient memang berasal dari Korea, tetapi sebenarnya menyasar pengguna dengan standar kualitas Eropa," tutur dr. Almond, saat acara Lorient Summit Symposium 2026 yang digelar di Sky Ballroom JHL Solitaire Gading Serpong, Tangerang, belui lama ini.

dr. Almond memaparkan bahwa Lorient hadir untuk mematahkan stigma bahwa seluruh filler Korea memiliki kualitas yang buruk, mudah berpindah tempat (migrasi), atau cepat menghilang setelah disuntikkan.

"Lorient adalah satu-satunya filler Korea yang selama ini saya coba yang hasilnya bisa menyamai kualitas filler-filler Eropa," katanya.

Ia pun mengatakan, melalui penyelenggaraan Lorient Summit, perusahaan ingin memberikan edukasi kepada para dokter sekaligus masyarakat mengenai keamanan dan kualitas filler modern.

Menurut dr. Almond, bahkan di kalangan tenaga medis masih banyak kekhawatiran yang muncul akibat berbagai informasi negatif mengenai filler yang beredar di media sosial.

"Banyak orang bilang filler bikin muka jadi gendut, bikin muka aneh, atau semakin lama semakin besar. Padahal sering kali masalahnya bukan pada tindakan fillernya, tetapi kualitas produk yang digunakan atau teknik penyuntikannya," jelasnya.

dr. Almond menambahkan bahwa filler berkualitas rendah cenderung lebih mudah berpindah tempat dan mengembang secara berlebihan, sehingga dapat menyebabkan kontur wajah menjadi tidak rata dan tampak tidak natural.

Karena itu, Lorient menggelar berbagai penelitian dan uji klinis untuk membuktikan bahwa produk mereka mampu bertahan pada area yang disuntikkan tanpa mengalami pembengkakan berlebihan.

"Lorient ingin membuktikan bahwa filler bisa sustain setelah disuntikkan, tidak mengembang berlebihan seperti yang banyak dikhawatirkan orang. Kami ingin menciptakan paradigma baru bahwa filler sebenarnya aman, selama produknya baik dan injektornya tersertifikasi," ungkap dr. Almond.

Lebih lanjut, dr. Almond menjelaskan bahwa filler yang baik bukan sekadar tahan lama, melainkan memiliki karakteristik yang dapat diprediksi oleh dokter saat digunakan.

Menurutnya, salah satu indikator utama filler berkualitas adalah kemampuannya untuk tetap berada pada area yang ditargetkan tanpa bermigrasi jauh ke jaringan lain.

"Filler yang bagus itu setelah disuntikkan hanya mengembang sedikit dan sebisa mungkin tidak berpindah ke tempat yang jauh. Itu salah satu kriteria filler yang baik," ujarnya.

Selain itu, filler juga harus dapat diserap secara alami oleh tubuh seiring waktu.

"Kalau penempatannya bagus dan fillernya awet tentu bagus. Tapi kalau penempatannya kurang tepat dan fillernya terlalu awet, justru bisa menjadi masalah," katanya.

Ia menilai Lorient memiliki keunggulan karena karakteristik produknya lebih mudah diprediksi oleh dokter saat melakukan tindakan.

"Kalau filler ini disuntikkan, dia tidak berpindah jauh dan tingkat pengembangannya bisa diprediksi. Jadi dokter tahu berapa banyak yang harus disuntikkan dan kapan harus berhenti," jelas dr. Almond.

Baca Juga: Haju Medical Luncurkan Lorient Element di AMUSE 2026, Hadirkan Pakar Estetika Dunia Bahas Masa Depan Kesehatan Kulit