Pembatalan lokasi penyelenggaraan oleh pihak Universitas Indonesia pada menit-menit terakhir tidak menghentikan Konferensi Republik. Forum konsolidasi masyarakat sipil itu tetap berlangsung dalam format daring diikuti lebih dari 200 peserta dari ratusan organisasi masyarakat sipil, yang bertahan sepanjang acara dan hingga 150 peserta yang hadir langsung di sebuah cafe di Cikini, Jakarta Pusat. Setelah hampir lima jam berdiskusi, forum menyepakati tiga mandat yang menjadi tumpuan langkah berikutnya: sebuah platform bersama, desain pengorganisasian, dan pembentukan pengurus perintis.

Ketua Umum Konferensi Republik, Sudirman Said, menyatakan rasa syukur atas energi yang muncul dalam forum dan menyebut antusiasme itu tidak bergeser sedikit pun kendati acara sempat menghadapi dinamika. "Kalau berkaca pada Konferensi Republik sebelumnya di Yogyakarta, forum ini tidak kalah luar biasa," ujarnya. la menilai watak forum tetap terjaga: tumbuh dari bawah, kolektif, dan partisipatif.

Baca Juga: Reuni Agus Rahardjo dan Sudirman Said: RI Masuk Era Kegelapan Tata Kelola

Menurutnya, kegelisahan yang merata di berbagai tempat menjadi alasan orang-orang dari tujuh generasi berkumpul, dan momentum itu membutuhkan ruang publik untuk membicarakan persoalan publik. "Ini untuk mengingatkan bahwa republik ini bukan milik perseorangan," Rektor Universitas Harkat Negeri tersebut, Minggu (28/6/2026) kemarin.

Baca Juga: Rakyat Dinilai Gak Peduli Prabowo atau Gibran di Pilpres 2029, yang Penting Sejahtera

Wakil Ketua Umum, Jaleswari Pramodhawardani, menegaskan pembatalan acara justru tidak menumbuhkan pesimisme. "Hari ini republik tanpa warga begitu terasa," katanya. Menurut Jaleswari, percakapan sengaja dibuka di ruang publik, bukan di ruang tertutup, agar gagasan-gagasan yang sebenarnya saling terhubung dapat distrukturkan bersama dan dikonkretkan menjadi aksi. la menekankan diskusi tidak berhenti pada upaya merangkum kesamaan, tetapi juga merawat perbedaan, dengan menebalkan hal yang penting dan menyisihkan yang kurang penting.

"Bukan cuma antusiasme, tetapi betapa kita mencintai Indonesia," ujarnya.

Sekretaris Jenderal Konferensi Republik, Yanuar Nugroho, menjelaskan dua hasil pertama forum. Platform menjadi cara menyatukan banyak pihak yang berbeda, sementara desain organisasinya berbentuk jejaring yang menghubungkan banyak aktor dari latar berbeda di bawah tujuan yang sama, bukan struktur pusat yang memiliki cabang. la menggambarkan kegelisahan yang serupa muncul di kalangan mahasiswa, profesional, dan anak muda, dan jejaring inilah yang hendak menghubungkan mereka. "Anda tidak sendirian," kata Yanuar.

Pada hasil ketiga, Yanuar menyoroti model kepemimpinan. "Ini bukan tentang siapa, tetapi tentang bagaimana," ujarnya. Kepemimpinan yang dimaksud bersifat institusional, dikerjakan secara kolektif, dan berpijak pada nilai, la menilai terlalu lama publik dibiarkan pada kepemimpinan yang pragmatis dan egosentrik, dan forum ini mengajukan alternatif.

"Tujuannya mengembalikan warga negara menjadi subjek, bukan objek," kata Yanuar, yang menyebut seluruh pembahasan berlangsung dalam semangat mencari terobosan dan gotong royong lintas generasi, sektor, dan aktor.