Di sebuah ruangan resmi di Jakarta, suasana terasa lebih dari sekadar seremoni. Ada optimisme yang mengalir pelan namun pasti. Di hadapan para pejabat dan pendidik, kolaborasi pertama antara Kementerian Agama RI dan British Council ditegaskan sebagai langkah strategis memperkuat kompetensi guru Bahasa Inggris madrasah di seluruh Indonesia.
Angkanya tidak kecil: 41.833 guru madrasah tersebar di berbagai penjuru negeri. Di tangan merekalah generasi muda dibentuk bukan hanya dalam fondasi keagamaan yang kokoh, tetapi juga dalam kesiapan menghadapi dunia global yang semakin terbuka.
Baca Juga: Kembangkan Talenta Berbasis AI, Kemenag-ESQ Latih Guru BK Madrasah
Bahasa Inggris sebagai Jembatan Peradaban
Kemampuan Bahasa Inggris kini tak lagi dipandang sebagai pelengkap. Ia menjadi pintu masuk menuju pendidikan tinggi dan jejaring internasional. Dari kebutuhan itulah, kolaborasi ini lahir secara resmi ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman pada November 2025, dan diwujudkan melalui program pengembangan profesional guru selama delapan minggu yang ditutup dengan lokakarya tatap muka di Jakarta akhir Februari ini.
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan Asta Protas Kemenag sekaligus mendukung Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris yang disepakati Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Keir Starmer pada Januari 2026.
“Pendidikan menjadi salah satu pilar utama kerja sama,” tegasnya dalam keterangan resmi.
Di balik pernyataan itu tersimpan pesan yang lebih dalam: guru madrasah bukan hanya penjaga nilai, tetapi juga jembatan dialog antar peradaban.
613 Guru, Delapan Minggu, Satu Perubahan Nyata
Kolaborasi antara Direktorat GTK Madrasah Kemenag RI dan British Council diawali dengan pemetaan kompetensi untuk mengukur kemampuan pedagogik dan kemahiran Bahasa Inggris guru MTs dan MA. Program percontohan Continuing Professional Development (CPD) kemudian dijalankan sebagai fondasi pengembangan ke depan.
Sebanyak 613 guru dari hampir seluruh provinsi di Indonesia telah menyelesaikan program ini. Country Director Indonesia and Director Southeast Asia British Council, Summer Xia, menjelaskan bahwa pelatihan dilakukan secara daring dalam format terstruktur, didukung e-moderator serta sesi langsung mingguan untuk memastikan kualitas pembelajaran tetap terjaga. Pendekatan berbasis data ini memberikan gambaran objektif tentang kebutuhan pengembangan guru sekaligus menjadi rujukan kebijakan selanjutnya.
Baca Juga: British Council Umumkan Pemenang Study UK Alumni Awards 2026 di Indonesia
Perubahan yang Terasa di Ruang Kelas
Dampaknya mulai terlihat. Selama delapan minggu pelaksanaan, guru mengadopsi pendekatan yang lebih berpusat pada siswa. Interaksi kelas menjadi lebih aktif. Kepercayaan diri dalam menggunakan Bahasa Inggris meningkat—dan itu berdampak langsung pada partisipasi siswa.
Ni’Matus Zahroh, guru Bahasa Inggris MTsN 15 Jombang, merasakan perubahan itu secara personal.
“Kesempatan pengembangan diri bagi pendidik di madrasah belum banyak. Melalui program ini, guru Bahasa Inggris di madrasah bisa memberikan pengajaran yang menyenangkan bagi murid dan menginspirasi untuk terus belajar demi menghasilkan generasi yang beriman dan berakal,” tuturnya.
Di ruang-ruang kelas yang sebelumnya sunyi, kini diskusi lebih hidup. Siswa lebih berani berbicara. Bahasa tak lagi menjadi tembok, melainkan jembatan.
Menuju Skala Nasional
Meski masih berupa program percontohan, inisiatif ini diproyeksikan sebagai fondasi ekspansi yang lebih luas. Model yang telah diuji membuka ruang untuk replikasi berkelanjutan dan pembentukan komunitas belajar profesional antar guru madrasah.
Summer Xia menegaskan komitmen British Council untuk memperkuat kapasitas dan memastikan solusi yang tidak hanya efektif saat ini, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.
Di tengah tantangan pendidikan global, kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang kelas. Dari seorang guru yang percaya diri. Dari satu kalimat Bahasa Inggris yang diucapkan dengan yakin. Dan mungkin, dari sana, lahir generasi yang tak hanya kuat dalam iman tetapi juga siap berdialog dengan dunia.