Perusahaan kosmetik, jamu dan kecantikan, Martha Tilaar Group tentu bukan menjadi nama asing bagi kebanyakan orang, merek ikonik seperti Sariayu, Biokos, PAC, dan Dewi Sri Spa bukan lagi menjadi barang baru. Merek-merek itu sudah menjadi pilihan utama banyak orang untuk mempercantik diri.
Berdiri menjadi raksasa kecantikan di Indonesia, Martha Tilaar bukan perusahaan yang lahir secara instan, ada proses panjang dan berliku di balik kesuksesan besar yang direngkuh sekarang ini.
Martha Tilaar adalah mimpi besar yang digantung di langit, ia dirajut dari garasi rumah yang hanya seukuran 4x6 meter.
Baca Juga: Mengenal Sosok Martha Tilaar, Pendiri Sariayu dan Pelopor Industri Kecantikan Indonesia
1969 di Jl. Kusuma Atmaja No. 47, Menteng, Jakarta Pusat, seorang perempuan muda bernama Martha Tilaar berdiri dengan gagah berani menantang kemustahilan itu.
Tak ada suntikan modal dari investor besar, tetapi Martha teguh pada keyakinannya, cita-cita mempercantik perempuan Indonesia adalah harapan besar yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Ilmu kecantikan yang dengan susah payah didapat dari hasil belajar bertahun-tahun di Amerika Serikat adalah satu-satunya modal mengejar mimpi yang masih mustahil itu.
“Mulai berusaha kecil sekali, karena saya mempunyai mimpi besar,” kenang Martha dalam sebuah kesempatan sebagaimana dilansir Olenka.id Selasa (3/2/2026).
Cita-cita Martha bukanlah angan-angan kosong, kendati memulainya nyaris tanpa modal besar, tetapi ia sadar betul Indonesia punya kekayaan hayati melimpah, ada banyak jenis tanaman yang bisa diolah menjadi kosmetik, jamu dan bahan kecantikan dengan kualitas jempolan. Semangat Martha semakin menyala-nyala ketika menyadari peluang itu.
“Saya ingin sekali untuk mempercantik perempuan Indonesia, dan Asia, dan dunia, dengan kekayaan alam Indonesia. Yaitu tiga kekayaan alam: tanaman obat, kosmetik, dan aromatik,” ujarnya.
Dukungan Penuh Sang Ayah
Keyakinan Martha memulai usaha kecantikan mendapat dukungan penuh dari almarhumnya ayahnya Yakob Handana. Namun sayang ayah awalnya sedikit pesimis mengingat usaha yang dirajut Martha tanpa dukungan dana besar.
“Pada saat itu, saya mengatakan mimpi saya kepada almarhum bapak saya, dan beliau mengatakan, oh bagus sekali. Dan dia bilang, kamu punya uang nggak? Nggak punya. Terus dia bilang, oh kamu itu mimpinya terlalu gede,” ucapnya.
Melihat Martha yang memulai usaha dengan sangat mandiri tanpa sokongan modal, sang ayah diam-diam mencari jalan keluar buat si bungsu dari tiga bersaudara itu. Ia mendiskusikan hal ini dengan beberapa saudaranya yang ketika itu memang punya pekerjaan menjanjikan.
Dari hasil rembuk keluarga, mereka sepakat patungan untuk modal awal. Nilai patungan beragam, ada yang memberi 10 persen, ada yang 20 persen sementara sang ayahnya memberi 30 persen, ditambah Martha sendiri yang sudah menyiapkan anggaran 30 persen dari hasil menabung sewaktu masih di Amerika Serikat.
Baca Juga: Cerita Kilala Tilaar yang Sempat Putus Asa dan Ingin Angkat Kaki dari Martha Tilaar Group
Itu sudah cukup menjadi modal awal. Kendati nilainya tak seberapa, tetapi itu menjadi bahan bakar yang mengantar Martha hingga ke gerbang mimpinya. Ia mulai membuka salon kecil dari garasi rumah orang tuanya dibantu satu karyawan.
“Saya mulai dengan salon karena pendidikan saya adalah kecantikan,” ucapnya.