Dalam proses tersebut, Ciputra menekankan pentingnya itikad baik, kejujuran, dan keberanian untuk bertanggung jawab.
Perusahaannya meminta skema pembayaran cicilan, sambil menunjukkan komitmen untuk bangkit dan memenuhi kewajiban.
“Kami minta dicicil. Nah, kami bilang, kita punya maksud yang baik, dengan tujuan yang baik,” tuturnya.
Lebih jauh, Ciputra menilai bahwa keberhasilan melewati krisis bukan semata soal strategi bisnis, tetapi juga soal integritas dan profesionalisme dalam menghadapi kesulitan.
“Tertangani dengan integritas, dengan profesionalisme, dan itu kan syukur,” katanya.
Pengalaman pahit tersebut justru menjadi fondasi penting bagi perjalanan Ciputra Group di tahun-tahun berikutnya.
Menurutnya, dari kegagalan dan tekanan utang, lahir keberanian, ketangguhan, dan kepercayaan diri untuk terus melangkah.
“Kami berani seperti kami sekarang ini,” pungkas Ciputra.
Baca Juga: Ciputra: Berani Ambil Risiko Boleh, tapi Wajib Dihitung dengan Cermat