Krisis ekonomi 1998 menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah perekonomian Indonesia. Nilai tukar rupiah terjun bebas, banyak perusahaan kolaps, dan gelombang kebangkrutan tak terhindarkan.
Di tengah situasi tersebut, mendiang Ciputra, tokoh pengusaha nasional dan pendiri Ciputra Group, pernah berada dalam kondisi yang sangat berat, yakni terlilit utang dalam jumlah besar.
Ciputra secara terbuka mengisahkan bagaimana perusahaannya harus berhadapan dengan tekanan finansial luar biasa pada masa krisis tersebut.
Menurutnya, situasi kala itu seperti terus berlari dengan beban utang yang menumpuk.
“Pada tahun 1998, krisis ekonomi Indonesia begitu besar sekali. Utang kami begitu banyak, kayak orang berlari, kayak berlari depan, dengan cara berhutang,” kenang Ciputra, dalam sebuah video, sebagaimana dikutip Olenka, Selasa (27/1/2026).
Dipaparkan Ciputra, kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk mengambil langkah sulit, yakni melakukan restrukturisasi utang.
Bagi Ciputra, restrukturisasi bukan sekadar langkah finansial, tetapi juga pengakuan bahwa bisnis yang dijalankan saat itu tidak berhasil melewati badai krisis.
“Itu kan kami terpaksa harus restrukturisasi utang-utang kami. Itu berarti gagal. Sudah berusaha bisnis, sudah tepat, tentu saja gagal. Tapi kami bangkit,” ujarnya.
Ciputra pun mengaku, ia dan timnya mengambil pendekatan yang lebih manusiawi dan berorientasi jangka panjang. Mereka memilih negosiasi langsung dengan para kreditur, dengan niat menyelesaikan kewajiban secara bertahap.
“Kami selesaikan utang-utang kami. Tidak satu pun pergi ke pengadilan. Kami negosiasi,” tegas Ciputra.
Baca Juga: Kisah Ciputra dan Filosofi Menciptakan Kesempatan
Dalam proses tersebut, Ciputra menekankan pentingnya itikad baik, kejujuran, dan keberanian untuk bertanggung jawab.
Perusahaannya meminta skema pembayaran cicilan, sambil menunjukkan komitmen untuk bangkit dan memenuhi kewajiban.
“Kami minta dicicil. Nah, kami bilang, kita punya maksud yang baik, dengan tujuan yang baik,” tuturnya.
Lebih jauh, Ciputra menilai bahwa keberhasilan melewati krisis bukan semata soal strategi bisnis, tetapi juga soal integritas dan profesionalisme dalam menghadapi kesulitan.
“Tertangani dengan integritas, dengan profesionalisme, dan itu kan syukur,” katanya.
Pengalaman pahit tersebut justru menjadi fondasi penting bagi perjalanan Ciputra Group di tahun-tahun berikutnya.
Menurutnya, dari kegagalan dan tekanan utang, lahir keberanian, ketangguhan, dan kepercayaan diri untuk terus melangkah.
“Kami berani seperti kami sekarang ini,” pungkas Ciputra.
Baca Juga: Ciputra: Berani Ambil Risiko Boleh, tapi Wajib Dihitung dengan Cermat