Co-Founder dan CEO Jago Coffee, Yoshua Tanu, mengaku pernah mengalami kegagalan dalam mengembangkan inovasi berbasis teknologi yang justru menjadi titik balik penting dalam perjalanan bisnisnya.
Alih-alih menjadi terobosan besar, inovasi tersebut mengajarkan satu prinsip mendasar: teknologi seharusnya menyederhanakan, bukan memperumit.
Pengalaman itu terjadi pada masa awal pandemi COVID-19, ketika industri kopi menghadapi tekanan besar akibat pembatasan mobilitas. Saat itu, banyak coffee shop tidak dapat menjangkau pelanggan secara langsung, sementara interaksi dengan konsumen didominasi oleh platform pihak ketiga.
Dalam situasi tersebut, Yoshua melihat peluang untuk menghadirkan solusi yang bisa menjembatani brand kopi dengan pelanggan secara lebih dekat.
“Awal-awal waktu Covid, kita mencoba membuat satu aplikasi. Kita mau menggaet banyak coffee shop, kita mau mencoba membuatkan satu aplikasi yang bisa meng-onboarding beda-beda brand,” ungkap Yoshua, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Selasa (24/3/2026).
Dikatakan Yoshua, ide yang dikembangkan saat itu adalah aplikasi agregator yang memungkinkan pelanggan memesan berbagai produk kopi dari beberapa brand dalam satu platform. Nama-nama seperti Kopi Tuku dan Dua Coffee bahkan sempat direncanakan untuk bergabung.
Tidak hanya sekadar platform pemesanan, kata Yoshua, konsep ini juga dirancang menghadirkan pengalaman berbeda, di mana pesanan akan diantar menggunakan sepeda dengan membawa identitas brand dan barista masing-masing.
“Ide waktu itu kelihatannya keren, karena kita bisa menjadikan agregator untuk brand-brand kopi yang lagi susah dari Covid,” ujarnya.
Namun, proses realisasi ide tersebut tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Setelah melalui pengembangan selama berbulan-bulan, tantangan besar mulai terlihat pada tahap implementasi.
Menurut Yoshua, permasalahan utama justru muncul dari sisi operasional yang sangat kompleks. Setiap brand memiliki sistem kerja, standar operasional, hingga manajemen inventori yang berbeda, sehingga sulit untuk disatukan dalam satu ekosistem.
“Onboarding dari atas sih gampang, tapi dari operational tersebut siapa yang mau naik sepedanya untuk keliling, untuk kirim ke rumahnya dan balik lagi? Itu cuma ada satu orang di toko,” jelas Yoshua.
Baca Juga: Yoshua Tanu: Sosok di Balik 'Jago Coffee', Kopi Delivery yang Lahir Kala Pandemi