Selain keterbatasan sumber daya manusia, lanjut Yoshua, persoalan lain juga muncul dalam hal standarisasi. Menyatukan berbagai identitas brand dalam satu sistem membutuhkan pelatihan, SOP, serta integrasi teknologi yang tidak sederhana. Hal ini membuat proses menjadi semakin rumit dan jauh dari efisien.

“Itu kan nggak bisa kita lampirin saja dalam satu sistem sekaligus. Harus ada training, harus ada SOP yang dibuat,” tambahnya.

Pada akhirnya, kompleksitas tersebut membuat inovasi agregator ini tidak dapat berjalan secara optimal dan harus dihentikan. Meski demikian, kata Yoshua, kegagalan ini justru memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi Yoshua dan timnya.

Ia pun menyadari bahwa pendekatan dalam membangun teknologi perlu diubah secara fundamental.

“Sebenarnya aplikasi jangan kita buat untuk mencoba mencari source baru, kita harus menggunakan teknologi untuk meng-amplify masalah yang sudah ada sekarang,” paparnya.

“Jadi ini yang membuat kita change the mindset from building a technology for complexity or for some type of revenue generator. Jadi lebih membuat teknologi untuk simplify the business,” lanjutnya.

Dari situ, muncul perubahan pola pikir bahwa teknologi bukanlah alat untuk mengejar peluang baru semata, melainkan sarana untuk memperbaiki dan menyederhanakan proses yang sudah ada.

Yoshua menegaskan bahwa jika teknologi justru memperlambat operasional atau menambah kerumitan, maka inovasi tersebut bisa dikategorikan sebagai kegagalan.

“Kalau kita membuat teknologi yang malah membuat Jago lebih lambat ke customer, itu sudah termasuk failure,” tegasnya.

Kini, prinsip yang dipegang oleh Jago Coffee jauh lebih jelas. Setiap inovasi harus mampu memberikan peningkatan nyata, baik dari sisi kecepatan, akurasi, maupun efisiensi. Teknologi harus menjadi enabler yang mempermudah, bukan penghambat.

“Setiap kali kita membuat solusi, teknologi itu harus bisa lebih cepat dari sebelumnya, lebih akurat, lebih efisien, dan itu yang harus kita selalu improve,” tutup Yoshua.

Baca Juga: Kisah Pendirian Jago Coffee: Brand Kopi Ikonik dengan Gaya Pemasaran Unik