Perjalanan Karier
Tepat di usia 21 tahun, Angga mengawali kariernya sebagai sutradara melalui film perdananya Foto Kotak Jendela yang tayang pada 2006. Satu tahun kemudian, ia kembali menjadi sutradara untuk film horor populer, Jelangkung 3.
Sebelumnya, Angga sempat terlibat di balik layar sebagai asisten sutradara dalam Catatan Akhir Sekolah (2005) dan kru produksi di Jomblo (2006). Pengalaman itu menjadi bekal awal sebelum ia benar-benar berdiri di kursi sutradara.
Kariernya kemudian melesat lewat sejumlah film penting seperti Hari untuk Amanda (2010), Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014), hingga Filosofi Kopi (2015) yang semakin mengukuhkan namanya sebagai seorang sutradara.
Angga juga dikenal lewat karya-karya seperti Surat dari Praha, Bukaan 8, Wiro Sableng, sampai Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yang sukses besar di pasaran.
Dalam beberapa tahun terakhir, Angga terus produktif lewat film seperti Mencuri Raden Saleh (2022), Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang (2023), 13 Bom di Jakarta (2023), hingga Heartbreak Motel (2024). Ia juga terlibat sebagai produser eksekutif di banyak proyek, termasuk film animasi Jumbo (2025).
Tak hanya fokus menggarap film layar lebar, Angga juga pernah menyutradarai puluhan video klip musik dan iklan komersial untuk berbagai merek. Ia bahkan berkeliling Indonesia untuk mengerjakan sejumlah film dokumenter.
Di balik layar, ia dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO Visinema Pictures, rumah produksi yang melahirkan banyak film sukses. Salah satunya adalah film animasi Jumbo (2025) yang sukses mencetak sejarah sebagai film animasi Indonesia terlaris dengan raihan lebih dari 10,2 juta penonton.
Baca Juga: Salman Aristo dan Perjalanan Kariernya dari Penulis hingga Sutradara Film
Di luar dunia film, Angga juga aktif sebagai pebisnis kreatif. Ia merupakan co-founder label furniture dan interior Trystliving serta CEO Woodchef Indonesia, di mana ia turut terlibat sebagai desainer produk. Ia juga bergabung dengan firma konsultan strategis Archiss sebagai mitra komunikasi kreatif.
Tak berhenti di sana, Angga dikenal sebagai sosok yang peduli pada isu kemanusiaan. Bersama mendiang Glenn Fredly melalui Green Music Foundation, ia menginisiasi gerakan Save Mentawai untuk membantu korban tsunami Mentawai pada 2010.
Angga juga menggagas Pondok Cerdas Indonesia (PONDASI), komunitas belajar berbasis perpustakaan yang dibangun untuk masyarakat kepulauan, pertama kali didirikan di wilayah Mentawai.