Influenza kerap dianggap sebagai penyakit ringan yang bisa sembuh sendiri. Namun, menurut Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, anggapan tersebut perlu diluruskan.
dr. Sukamto menegaskan bahwa influenza adalah ancaman nyata di Indonesia yang terjadi sepanjang tahun, bukan sekadar penyakit musiman seperti di negara empat musim.
“Influenza itu adalah ancaman nyata di Indonesia,” tutur dr. Sukamto, saat acara Media Discussion Kalventis di Hotel Ashley Tanah Abang, Jakarta, Senin (4/5/2026).
dr. Sukamto menuturkan bahwa berbeda dengan negara subtropis yang memiliki pola musim dingin, di Indonesia virus influenza terus beredar tanpa henti.
Menurutnya, data surveilans menunjukkan adanya dua puncak kasus dalam setahun, yakni di awal dan akhir tahun, tetapi secara umum penularan tetap terjadi sepanjang waktu. Karena itu, ia menekankan bahwa masyarakat tidak perlu menunggu musim tertentu untuk mendapatkan vaksinasi.
“Kalau ditanya waktunya vaksin kapan? Itu kapan saja,” kata dr. Sukamto.
dr. Sukamto juga menyoroti pentingnya sistem surveilans global yang dilakukan secara rutin, termasuk di Indonesia, untuk memantau jenis virus influenza yang beredar.
Data tersebut kemudian menjadi dasar bagi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam menentukan komposisi vaksin setiap tahun.
Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, WHO merekomendasikan transisi dari vaksin quadrivalent menjadi trivalent karena salah satu galur virus influenza B, yakni Yamagata, sudah tidak terdeteksi sejak 2020.
Meski demikian, dr. Sukamto menilai bahwa bagi masyarakat awam, perbedaan jumlah galur dalam vaksin bukanlah hal utama.
“Sebetulnya buat masyarakat tidak terlalu penting apakah dia trivalent atau quadrivalent, yang penting vaksin ini melindungi atau tidak, dan terjangkau,” jelasnya.
dr. Sukamto menambahkan bahwa perubahan tersebut bukan berarti penurunan kualitas, melainkan penyesuaian berbasis bukti ilmiah agar vaksin tetap tepat sasaran.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa influenza bukan sekadar flu biasa. Di Indonesia, sekitar 15 persen kasus infeksi saluran pernapasan berat terbukti disebabkan oleh virus influenza. Artinya, penyakit ini bisa berkembang menjadi kondisi serius hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
“Ini bukan penyakit langka, ini ada di sekitar kita setiap hari,” tegasnya.
Baca Juga: Jalankan Rekomendasi WHO, Anak Usaha Kalbe Siapkan Vaksin Influenza Trivalen
Dalam konteks pencegahan, dr. Sukamto mengakui bahwa langkah-langkah seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap penting. Namun, dalam praktik kehidupan sehari-hari, tidak semua orang dapat terus menghindari kerumunan atau membatasi mobilitas.
Oleh karena itu, lanjut dia, vaksinasi menjadi solusi yang paling realistis dan efektif. Ia mengibaratkan vaksin influenza seperti sabuk pengaman dalam mobil.
“Tidak menjamin Anda tidak akan kecelakaan, tapi kalau kecelakaan terjadi dampaknya jauh lebih ringan,” katanya.
Menurutnya, vaksin influenza memang tidak selalu mencegah seseorang tertular sepenuhnya, tetapi sangat efektif dalam mencegah kondisi yang lebih berat, komplikasi, hingga kematian. Karena itulah WHO menempatkan vaksinasi influenza tahunan sebagai tindakan pencegahan utama, bukan sekadar pelengkap.
dr. Sukamto mengatakan, perkembangan terbaru di dunia medis juga menunjukkan bahwa vaksin influenza kini semakin diakui sebagai bagian dari terapi penyakit kronis.
Dalam pedoman internasional, termasuk dari American Heart Association, vaksin influenza telah dimasukkan sebagai bagian dari penanganan pasien dengan penyakit jantung, bukan lagi sekadar pilihan tambahan.
Hal serupa juga mulai diterapkan dalam bidang endokrinologi, di mana vaksinasi menjadi bagian integral dalam tata laksana pasien dengan penyakit metabolik seperti diabetes.
Terkait efektivitas dan keamanan, dr. Sukamto menegaskan bahwa vaksin trivalent dan quadrivalent memiliki tingkat kemanjuran yang setara. Studi menunjukkan bahwa respons imun yang dihasilkan tidak berbeda signifikan.
Dari sisi keamanan, efek samping yang ditimbulkan juga tergolong ringan dan sebanding dengan suntikan placebo. Ia menekankan bahwa tidak ada bukti hubungan vaksin influenza dengan efek samping serius seperti kematian atau penyakit berat lainnya.
dr. Sukamto juga mengingatkan bahwa efektivitas vaksin tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah galur yang terkandung, melainkan ketepatan terhadap virus yang sedang beredar.
“Vaksin yang efektif bukan isinya yang paling banyak, tapi yang paling tepat sasaran,” jelasnya.
Ia mengibaratkan penggunaan galur yang sudah tidak beredar seperti ‘memasang kunci untuk pintu yang sudah tidak ada’ yang tidak memberikan perlindungan tambahan.
Di akhir pemaparannya, dr. Sukamto menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada jenis vaksin yang digunakan, melainkan pada rendahnya cakupan vaksinasi di masyarakat. Ia pun mengajak semua pihak, termasuk media dan masyarakat umum, untuk lebih aktif dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksin influenza.
“Yang harus jadi fokus kita bukan galur dalam vaksin, tapi seberapa banyak masyarakat Indonesia yang sudah divaksin,” pungkasnya.
Baca Juga: Profil Bernadette Ruth Irawati Setiady, Presiden Direktur Kalbe Farma