Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater semakin akrab di kalangan generasi Z (Gen Z). Kemudahan transaksi yang ditawarkan membuat layanan ini menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Namun, di balik tren tersebut, terdapat faktor ekonomi yang ikut mendorong meningkatnya penggunaan PayLater di kalangan anak muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta menunjukkan rata-rata pengeluaran Gen Z di Jakarta sepanjang 2025 mencapai Rp11.969.830 per bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp7.142.427 digunakan untuk kebutuhan nonmakanan, sedangkan pengeluaran makanan tercatat sebesar Rp4.827.403 per bulan.

Besarnya pengeluaran nonmakanan menunjukkan bahwa biaya hidup anak muda perkotaan tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan pangan. Pengeluaran untuk tempat tinggal, transportasi, komunikasi, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan penunjang pekerjaan turut menyerap porsi yang besar dari pendapatan mereka.

Baca Juga: BPS: Gen Z Jakarta Habiskan Hampir Rp12 Juta Sebulan, Pengeluaran Terbesar untuk...

Di sisi lain, kondisi ketenagakerjaan anak muda juga masih menghadapi tantangan. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15-29 tahun di DKI Jakarta pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen. Selain itu, sekitar 21,47 persen pekerja muda masih berada di sektor informal yang umumnya memiliki pendapatan tidak tetap.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa layanan PayLater semakin banyak digunakan oleh generasi muda.

"Mereka harus membayar transportasi, tempat tinggal, kebutuhan kerja, bahkan membantu keluarga. PayLater kemudian dipakai untuk menjembatani kebutuhan hari ini dengan pendapatan yang baru diterima di masa depan," ujar Adrian dikutip dariĀ Kompas.comĀ pada Senin (20/07/2026).

Baca Juga: Kebutuhan Mendesak Tak Bisa Ditunda, Yuk Aktivasi Paylater BCA di myBCA!

Menurutnya, banyak anak muda memanfaatkan PayLater bukan semata-mata untuk membeli barang konsumtif, tetapi juga untuk mengatur arus kas ketika kebutuhan datang lebih cepat dibandingkan pendapatan yang diterima.

Meski demikian, Adrian mengingatkan bahwa PayLater tetap merupakan bentuk utang yang harus digunakan secara hati-hati. Pengguna perlu memastikan bahwa setiap transaksi telah direncanakan dan cicilannya masih berada dalam batas kemampuan keuangan.

"Pertanyaan terpenting bukan apakah barang itu kebutuhan atau keinginan, melainkan apakah keputusan membeli sudah direncanakan dan seluruh cicilannya bisa dibayar tanpa mengorbankan kebutuhan pokok, tabungan, maupun dana darurat," katanya.

Ia menegaskan bahwa PayLater dapat menjadi alat bantu keuangan yang bermanfaat apabila digunakan secara disiplin. Sebaliknya, penggunaan tanpa perencanaan berpotensi menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari akibat akumulasi cicilan, biaya layanan, maupun denda keterlambatan.

"PayLater adalah utang, bukan tambahan pendapatan. Selama dipakai secara disiplin dan sesuai kemampuan membayar, fasilitas ini bisa membantu. Tetapi ketika digunakan tanpa perencanaan, justru dapat menjadi beban keuangan di masa depan," tutupnya.