Direktur Utama KAI, Properti Mohamad Ramdany, bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, melakukan peninjauan lokasi pengembangan hunian vertikal di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (18/8). Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat kesiapan lokasi sekaligus rencana pengembangan kawasan hunian yang dirancang dengan pendekatan berbasis Transit Oriented Development (TOD).
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan properti dan pengelolaan kawasan berbasis transportasi, KAI Properti berperan dalam mengoptimalisasi lahan milik KAI di kawasan sekitar stasiun, salah satunya Stasiun Manggarai, menjadi kawasan hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik dan berbagai aktivitas pendukung di sekitarnya.
Baca Juga: Kemitraan Moladin Finance dan Pashouses Hadirkan Solusi Pembiayaan bagi Pemilik Properti
“Peninjauan hari ini menjadi bagian penting bagi KAI Properti untuk melihat secara langsung kesiapan lokasi dan memastikan rencana pengembangan kawasan dapat berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan. Pengembangan hunian vertikal di kawasan Manggarai ini merupakan bagian dari upaya KAI Properti dalam mengoptimalisasi lahan milik KAI sekaligus mendukung program pemerintah dalam bidang penyediaan hunian,” ujar Direktur Utama KAI Properti, Mohamad Ramdany.
Pengembangan Hunian Vertikal Manggarai akan dilakukan di atas lahan seluas sekitar 2,1 hektare atau 21.939 meter persegi, yang terdiri dari Blok G seluas sekitar 6.925 meter persegi dan Blok F seluas sekitar 15.014 meter persegi. Lahan tersebut merupakan lahan dengan status Hak Pakai PT KAI. Berdasarkan rencana pengembangan kawasan, hunian vertikal akan dibangun dalam 8 tower yang terdiri dari 3 tower di Blok G dan 5 tower di Blok F. Setiap tower direncanakan memiliki 12 lantai dengan total 3.740 unit hunian serta dilengkapi 150 unit ruang retail untuk mendukung aktivitas ekonomi di kawasan.
Pengembangan kawasan menerapkan konsep Transit Oriented Development (TOD) dengan mengintegrasikan fungsi hunian dengan jaringan transportasi publik dan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Dari lokasi pengembangan, Stasiun Manggarai berjarak sekitar 400 meter dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu sekitar empat menit berdasarkan perencanaan akses kawasan. Penataan kawasan juga memperhatikan area pedestrian, ruang terbuka hijau, serta fasilitas komunal pendukung untuk menunjang mobilitas dan aktivitas penghuni.
"Sebagai pengembang, kami tidak hanya melihat proyek ini dari sisi penyediaan unit hunian, tetapi juga bagaimana kawasan ini dapat dirancang untuk mendukung aktivitas masyarakat di dalamnya. Karena itu, aspek konektivitas, fungsi ruang, fasilitas pendukung, hingga hubungan kawasan dengan lingkungan sekitarnya menjadi bagian dari perencanaan kami,” tambah Ramdany.
Dalam rencana pengembangannya, kawasan hunian juga berada dekat dengan berbagai fasilitas publik dan aktivitas perkotaan. Berdasarkan pemetaan kawasan, sejumlah fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, serta transportasi publik berada dalam radius sekitar tiga kilometer dari lokasi hunian vertikal ini.
“Kami berharap pengembangan hunian berbasis TOD ini dapat menghadirkan lingkungan tempat tinggal yang terhubung dengan berbagai pusat aktivitas dan simpul transportasi. Kami juga terus memastikan kesiapan proyek agar dapat berjalan sesuai rencana. Tahap awal pengembangan di Blok G ditargetkan mulai pada Agustus 2026, kemudian dilanjutkan dengan Blok F pada Oktober 2026,” tutup Ramdany.