Upaya meningkatkan literasi membaca Al-Qur’an di Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif, meskipun masih terdapat sejumlah tantangan.
Survei nasional Indeks Literasi Al-Qur’an 2023 yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI mencatat indeks nasional berada di angka 66,04, yang masuk dalam kategori tinggi.
Namun, laporan tersebut juga menunjukkan adanya kesenjangan dalam aspek kemampuan membaca sesuai kaidah tajwid dan kelancaran bacaan.
Tantangan ini tidak hanya dialami anak-anak yang baru belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga kalangan dewasa yang ingin kembali memperbaiki atau memulai kembali proses belajarnya.
Menjawab kebutuhan tersebut, brand perawatan pria Kahf bersama Parastudio menghadirkan IQRO’ Reimagined Project, sebuah penyegaran visual terhadap buku Iqro' karya K.H. As'ad Humam, yang selama puluhan tahun menjadi fondasi pembelajaran membaca Al-Qur’an di Indonesia.
Program Kahf IQRO’ Reimagined Project diperkenalkan kepada publik dalam ajang Illustrated Ramadan Jakarta 2026 yang berlangsung di ASHTA District 8.
Inisiatif ini tidak mengubah metode pembelajaran yang telah dikenal luas, melainkan memperbarui pendekatan visual agar lebih relevan dengan konteks generasi masa kini.
Aldian Alfaridz, Brand Representative Kahf, menjelaskan bahwa proyek ini lahir dari kesadaran bahwa masih banyak orang dewasa yang ingin belajar kembali membaca Al-Qur’an, tetapi merasa ragu untuk memulai dari awal.
“Kolaborasi ini hadir sebagai ajakan untuk kembali memulai atau melanjutkan perjalanan membaca Al-Qur’an. Kami memahami bahwa banyak orang dewasa yang merasa ragu dan takut di-judge ketika ingin belajar dari awal. Karena itu, kami ingin menghadirkannya dalam format yang lebih kontekstual tanpa mengubah ruh aslinya,” tutur Aldian, dikutip Kamis (12/3/2026).
Metode IQRO’ sendiri pertama kali diperkenalkan pada era 1980-an dan telah membantu jutaan masyarakat Indonesia mengenal huruf hijaiyah serta membaca Al-Qur’an secara sistematis dan praktis.
Dalam proses pembaruan ini, Kahf memastikan warisan metode tersebut tetap terjaga, termasuk mempertahankan khat tulisan tangan asli sebagai elemen grafis utama untuk menjaga nilai historisnya.
Baca Juga: Peran Wardah dan Kahf sebagai Pionir Authentic Halal Brand
Edisi terbaru ini mengacu pada IQRO’ Klasikal, sebuah format akselerasi dari jilid 1 hingga 6 yang dirancang lebih ringkas dan padat. Rilisan ini menjadi tahap awal dari pengembangan berkelanjutan yang akan terus dilanjutkan pada periode mendatang.
Proyek ini diinisiasi oleh Kahf dan Parastudio, bekerja sama dengan IQRO' Center melalui pendampingan materi dari Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus AMM Yogyakarta, serta pengembangan desain oleh W Brand Consultant.
Perwakilan IQRO’ Center sekaligus keluarga dari pencipta metode IQRO’, Rehan Mubarak, menyambut positif inisiatif ini sebagai langkah untuk memperluas semangat belajar Al-Qur’an.
“Inisiasi ini memiliki tujuan yang sejalan dengan K.H. As'ad Humam dan IQRO' Center dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an, khususnya pada generasi muda. Dengan niat baik tersebut, kami menyambut positif gagasan ini dan berharap semakin banyak generasi muda yang mungkin belum bisa mengaji, namun merasa ragu untuk memulai kembali dari dasar, dapat terdorong untuk terus belajar dan menyempurnakan bacaan Al-Qur’an melalui pengembangan desain ini,” kata Rehan.
Dalam pendekatan desainnya, IQRO’ Reimagined menggunakan format zine, eksplorasi tipografi dinamis, serta tata letak yang lebih fleksibel. Meski tampil lebih modern, struktur pengenalan huruf, sistem klasikal pembelajaran, dan kaidah bacaan tetap dipertahankan sesuai metode asli.
Ibnu Hafiz Fadhilah, Brand Designer dari W Brand Consultant, menjelaskan bahwa proses reinterpretasi desain dilakukan dengan pendekatan yang sangat hati-hati agar tetap menghormati nilai historisnya.
“Proses dekonstruksi buku IQRO’ Klasikal ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Kami menggunakan pendekatan konsep ‘type as image’ karena khat asli sudah memiliki karakter yang kuat. Begitu pula pertimbangan penggunaan simbol tiga santri dan foto KH. As’ad Humam yang ikonik. Upaya ini dilakukan untuk memadukan dua reinterpretasi sekaligus: modernisasi IQRO’ tanpa menghilangkan sisi otentiknya, serta ekspresi desain Kahf yang kontekstual dalam merespons medium baru dalam pengalaman brand,” jelas Ibnu.
Konsep ini sekaligus menegaskan bahwa IQRO’ bukan hanya buku belajar bagi anak-anak atau pemula, tetapi media pembelajaran sepanjang hayat bagi siapa saja yang ingin terus memperbaiki fondasi membaca Al-Qur’an.
Seniman Bill Mohdor, yang turut menyoroti kolaborasi ini melalui media sosialnya, menilai pendekatan kreatif tersebut sebagai langkah yang relevan untuk generasi masa kini.
“Saat sesuatu yang telah menjadi tradisi lintas generasi disajikan ulang sebagai karya seni yang kontemporer dan relevan, menurut saya ini adalah langkah yang jenius. Ini membuktikan bahwa seni dapat berdampak luas dalam mendorong masyarakat untuk meningkatkan literasi. IQRO’ adalah sebuah legasi karya dari tokoh legendaris Indonesia, dan ketika kelak dibawa ke panggung global, IQRO’ Reimagined ini akan merepresentasikan warisan intelektual bangsa kita,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari gerakan Bener Bareng yang mengajak masyarakat menjadi pribadi yang lebih baik di bulan Ramadan, Kahf juga membawa IQRO’ Reimagined ke ruang publik dan komunitas Muslim di berbagai negara.
Perjalanan global proyek ini dimulai dari kota suci Mekkah dan Madinah, kemudian berlanjut ke London, New York, hingga Chiba melalui berbagai aktivasi komunitas Muslim setempat. Melalui langkah ini, Kahf berharap semangat literasi Al-Qur’an dapat menjangkau generasi yang lebih luas, lintas usia, dan lintas negara.
Baca Juga: Refleksi dan Perjuangan Diri, Kahf Luncurkan Kampanye #PejuangBerKahf