Pola kunjungan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke sejumlah daerah kembali menjadi sorotan. Keduanya disebut beberapa kali mengunjungi wilayah yang sama dalam rentang waktu yang berdekatan.

Pola tersebut memunculkan dugaan adanya agenda politik di balik kunjungan Jokowi dan Gibran. Dugaan itu disampaikan pegiat media sosial Arif Wicaksono yang mempertanyakan mengapa daerah yang didatangi keduanya kerap beririsan.

Arif mengaitkan hal tersebut dengan pernyataan Jokowi sebelumnya yang menyebut kunjungannya ke berbagai daerah bukan ditujukan untuk kepentingan elektoral Gibran.

“Jokowi bilang kunjungannya ke daerah ‘bukan untuk elektoral Gibran’. Polanya jelas,” ujar Arif, dikutip Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: IPK Jokowi Disorot, UGM Buka-Bukaan: Syarat Lulus Sarjana Muda Minimal 2,00

Salah satu contoh yang disorot adalah kunjungan Jokowi ke Lampung pada Juni 2026. Saat itu, Jokowi mengenakan atribut yang dikaitkan dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), menghadiri Rakorda PSI, serta melakukan sejumlah kegiatan bersama masyarakat.

“Pakai kemeja-topi PSI, hadiri Rakorda PSI, bilang lantang: ‘yang lebih penting, juga untuk PSI’. Terima gelar adat, blusukan, foto, pulang,” kata Arif.

Beberapa pekan setelah kunjungan tersebut, Gibran kemudian mendatangi Lampung Timur. Arif mempertanyakan apakah kedatangan Gibran ke wilayah tersebut hanya kebetulan.

“Beberapa minggu kemudian Gibran ‘kebetulan’ menyusul ke Lampung Timur,” tuturnya.

Pola serupa juga disorot Arif ketika Jokowi mengunjungi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Agustus 2026. Dalam kunjungannya, Jokowi disebut kembali melakukan agenda silaturahmi dan menerima gelar adat.

Baca Juga: 'Digoreng ke Sana Kemari' Gerindra Minta Jokowi Tegur Budi Arie soal Pemilu 2029!

“Gelar adat lagi. Silaturahmi lagi. Framing ‘masih orang kampung’ lagi. Semua diklaim ‘murni undangan’. Semua ‘bukan untuk elektoral’,” ujar Arif.

Tak lama kemudian, Gibran juga datang ke NTT. Kunjungan tersebut berlangsung dalam konteks tugas kenegaraan, termasuk meninjau penanganan masyarakat yang terdampak gempa bumi.

“Tidak lama Gibran juga turun ke NTT, termasuk pascagempa,” kata Arif.

Rangkaian tersebut membuat Arif mempertanyakan alasan daerah yang dikunjungi Jokowi dan Gibran kerap beririsan, termasuk jarak waktu di antara kunjungan keduanya.

“Kalau bukan untuk itu, kenapa selalu daerah yang sama? Kenapa selalu timing yang sama? Kenapa selalu anak yang sama yang menyusul?” ujarnya.

Arif kemudian meminta Jokowi terbuka jika memang sedang membangun kekuatan politik untuk keluarganya. Menurutnya, keterbukaan akan lebih baik daripada terus membantah adanya kepentingan elektoral.

“Sudah waktunya berhenti pura-pura. Bilang saja: ‘Saya sedang bangun mesin politik untuk anak-anak saya.’ Lebih baik daripada membantah,” tandas Arif.

Meski demikian, dugaan tersebut merupakan penilaian dan interpretasi Arif berdasarkan pola kunjungan yang ia soroti. Tidak ada informasi yang membuktikan bahwa kunjungan Jokowi dan Gibran ke daerah yang sama merupakan bagian dari strategi politik keluarga.

Baca Juga: Bikin Heboh soal ‘Lebih Cepat dari 2029’, Budi Arie Minta Maaf: Bukan Sinyal dari Jokowi!

Khusus kunjungan Gibran ke NTT, agenda tersebut berlangsung dalam konteks tugas kenegaraan, termasuk memastikan penanganan dan pemulihan pascagempa berjalan di lapangan.

Karena itu, dugaan adanya agenda politik di balik pola kunjungan Jokowi dan Gibran masih berada pada ranah opini dan belum menjadi fakta yang terkonfirmasi.