Pengembangan terapi sel dan regenerative medicine menjadi perhatian khusus dalam industri kesehatan dunia, termasuk Indonesia. Dinilai memiliki potensi besar, Indonesia terus mendorong kolaborasi strategis dalam pengembangan terapi sel dan regenerative medicine, salah satunya melalui Annual Meeting of the Asian Cellular Therapy Organization (ACTO) 2026 di Hotel Borobudur Jakarta pada Rabu (26/8/2026).
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia, menjelaskan bahwa perkembangan terapi sel di Indonesia sudah sangat pesat, baik untuk penyakit-penyakit yang tidak ada alternatif pengobatannya maupun penyakit yang berkaitan dengan regeneratif sel dan sebagainya.
"Di Indonesia, pengembangan terapi sel sudah sangat pesat. Dengan kolaborasi di ACTO 2026, kami berharap peneliti dan klinisi Indonesia juga memiliki kecepatan untuk pengembangan terapi sel setara dengan negara-negara seperti Jepang," pungkas Lucia dalam konferensi pers ACTO 2026 di Jakarta pada Rabu (26/8/2026).
Kendati demikian, Lucia menegaskan bahwa masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan terapi sel. Tantangan pertama ialah keselarasan antara kemajuan teknologi dan pembuktian ilmiah dalam penerapan layanan kesehatan terapi sel.
Tantangan berikutnya ialah terkait dengan akses. Lucia menekankan bahwa terapi sel sudah sepatutnya dapat diakses oleh seluruh kalangan masyarakat. Begitu juga dengan biaya pengembangan teknologi yang masih menjadi tantangan, di mana Indonesia perlu memastikan hal tersebut dapat dilakukan dengan biaya yang lebih terjangkau.
“Jangan sampai terapi stem cell nantinya hanya bisa dinikmati oleh masyarakat kelas atas dan tidak dapat dijangkau oleh masyarakat secara luas,” tegasnya lagi.
Berkenaan dengan hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengambil peranan dalam mengembangkan sejumlah penelitian terkait sel punca. Hal demikian ditekankan oleh Prof. Dr. Ni Luh Putu Indi Dharmayanti.
Dalam kesempatan yang sama, ia menekankan bahwa BRIN mendorong translational research sehingga hasil penelitian dasar dapat dikembangkan hingga memiliki potensi untuk diterapkan dalam pelayanan kesehatan.
Selain itu, BRIN juga terus mengembangkan teknologi produksi sel, cell culture atau kultur sel, serta biobank. Lembaga tersebut sedang menginisiasi pengembangan biobank yang berkaitan dengan jaringan manusia.
“Kami melakukan penelitian dasar untuk memahami berbagai mekanisme yang berkaitan dengan sel punca, termasuk bagaimana karakteristik dan mekanisme kerja sel tersebut, serta aspek imunomodulasinya,” tambahnya.