Meski demikian, dr. Nadhira menilai, smartwatch tetap memiliki fungsi yang cukup baik untuk memantau detak jantung saat berolahraga.

Berbeda dengan estimasi kalori, tingkat kesalahan pada pengukuran heart rate relatif kecil sehingga hasilnya cenderung lebih akurat.

"Kalau untuk mengukur heart rate, percentage error-nya lumayan kecil, jadi cukup akurat. Tapi kalau energy expenditure atau pengeluaran kalori, percentage error-nya tinggi banget," katanya.

Lebih lanjut, dr. Nadhira mengingatkan bahwa pengelolaan berat badan tidak bisa dipandang sebagai perhitungan matematika sederhana.

Anggapan bahwa mengonsumsi makanan tertentu dapat langsung ‘dibayar’ dengan membakar jumlah kalori yang sama melalui olahraga merupakan pemahaman yang kurang tepat.

"Sebenarnya badan kita bukan hitung-hitungan matematika. Bukan berarti makan mi ayam 600 kalori akan lunas terbayar dengan lari yang membakar 600 kalori. Naik-turun berat badan dan perubahan komposisi tubuh tidak sesederhana itu karena banyak faktor yang memengaruhinya," ungkap dr. Nadhira.

dr. Nadhira juga menambahkan bahwa teknologi wearable terus berkembang dari waktu ke waktu dibandingkan penelitian yang menjadi acuan pada 2022. Namun, pesan utamanya tetap sama, yakni jangan terlalu terpaku pada angka yang muncul di perangkat.

"Pada intinya, perbaiki saja pola hidup dengan baik, tidak usah menghitung semuanya secara matematis. Fokus pada pola makan yang seimbang, olahraga rutin, dan gaya hidup sehat secara keseluruhan," tutup dr. Nadhira.

Baca Juga: 7 Makanan Pemicu Kanker Menurut Dokter Spesialis Gizi, Bukan Dilarang tapi Wajib Dibatasi!