Jehian juga menambahkan bahwa tanda tersebut bisa terlihat bahkan dari percakapan sehari-hari. Menurutnya, partner yang berhenti bersikap kritis saat bisnis sedang sukses berpotensi mengambil keputusan yang merugikan perusahaan di masa depan.

Red flag berikutnya, lanjut Jehian, adalah ketika seseorang tidak mampu memperlakukan tim atau orang-orang yang bekerja dengannya secara manusiawi.

Menurut Jehian, kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan karyawan maupun rekan kerja merupakan kualitas penting dalam seorang partner bisnis. Sebab, bisnis yang bertumbuh membutuhkan kolaborasi, bukan hanya kemampuan menghasilkan keuntungan.

"Kalau mereka tidak bisa memanusiakan orang-orang yang bekerja sama mereka, itu juga menjadi red flag,” bebernya.

Kata dia, partner yang tidak menghargai orang lain berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat dan menghambat perkembangan bisnis dalam jangka panjang.

Dan, red flag terakhir adalah sikap defensif. Jehian mengingatkan bahwa partner bisnis yang baik seharusnya terbuka terhadap kritik dan bersedia mengevaluasi diri.

Sebaliknya, kata dia, jika setiap masukan selalu dibalas dengan pembelaan diri, mencari alasan, atau menghindari tanggung jawab, kerja sama akan sulit berkembang.

"Kalau diberikan kritik yang membangun selalu menyangkal dan berusaha mencari alasan untuk tidak mau mengambil tanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat,” ungkapnya.

MenurutJehian, kemampuan menerima kritik merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan bisnis yang sehat.

“Partner yang mau bertanggung jawab atas kesalahan akan lebih mudah diajak bertumbuh bersama dibandingkan mereka yang terus menyalahkan keadaan atau orang lain,” tandasnya.

Baca Juga: Tipe Karyawan yang Dibutuhkan Agar Bisnis Berkembang Lebih Cepat