Dalam rekomendasi terbarunya, World Health Organization (WHO) menyarankan penggunaan vaksin trivalen untuk mencegah penyakit influenza yang sebelumnya berupa kuadrivalen. Transisi dilakukan seiring temuan para ahli kesehatan global, termasuk WHO, yang tidak lagi menemukan sirkulasi virus B/Yamagata sejak tahun 2020.

Sejalan dengan hal itu, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis) selaku anak usaha PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) pun menghadirkan vaksin influenza trivalen. Sebagai langkah edukasi, Kalventis menggelar forum diskusi bertajuk “Perlindungan Tanpa Batas: Pentingnya Vaksin Influenza bagi Dewasa dan Lansia” dengan menghadirkan Ketua PERALMUNI (Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI, sebagai narasumber.

Baca Juga: 3 Alasan Vaksin Campak pada Anak Harus Diberikan Lebih dari Sekali

“Kalbe melalui Kalventis ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa influenza dapat berdampak serius, khususnya pada dewasa dengan penyakit penyerta dan kelompok lansia. Vaksinasi adalah langkah perlindungan yang penting untuk mencegah komplikasi serta menekan risiko rawat inap. Sebagai perusahaan kesehatan, kami berkomitmen untuk memberikan edukasi kesehatan yang relevan bagi masyarakat dan menghadirkan vaksin influenza trivalen yang selaras dengan rekomendasi WHO,” ujar Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno, di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Efektivitas Vaksin Tahunan Influenza

Sebagai perlindungan, vaksin influenza disarankan diterima setiap tahun karena mutasi virus yang berkembang cepat. Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI menjelaskan, virus penyebab influenza terbagi menjadi dua, yakni A (terdiri dari H dan N) dan B (terdiri dari Victoria dan Yamagata). Selama ini, vaksin influenza terdiri dari keempat virus tersebut. Akan tetapi, dalam penelitian terbaru, virus Yamagata sudah tidak lagi terdeteksi sejak Maret 2020 sehingga WHO mendorong penyesuaian komposisi vaksin.

Vaksin influenza trivalen (TIV) yang direkomendasikan mengandung perlindungan terhadap strain yang terdeteksi masih aktif, yakni virus influenza A (H1N1), influenza A (H3N2), dan influenza B/Victoria. Tiga jenis influenza ini berisiko komplikasi serius, termasuk pada dewasa, lansia, serta individu dengan komorbid, yang berisiko mengalami komplikasi seperti pneumonia, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan lainnya.

“Influenza bukan selesma (common cold). Pada pasien common cold, jarang terjadi deman dan sakit kepala, sedangkan pada pasien influenza, sering kali demam tinggi secara tiba-tiba yang biasanya berakhir dalam 3—4 hari dan sering kali pasien mengalami sakit kepala. Kemudian, pada kelompok dewasa dan lansia, influenza dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, bahkan kejadian kardiovaskular akut,” jelas Prof. Iris Rengganis.

Menurutnya, perubahan rekomendasi WHO terkait influenza kuadrivalen (QIV) menjadi vaksin influenza trivalen (TIV) mencerminkan dinamika epidemiologi influenza global. Prof. Iris pun meminta masyarakat untuk tidak khawatir mengenai perbedaan kedua vaksin tersebut. Keduanya sama-sama mampu memberikan proteksi yang maksimal.

“Transisi dari vaksin quadrivalent ke trivalent merupakan bentuk penyesuaian ilmiah terhadap perkembangan epidemiologi virus influenza global. Ini bukan pengurangan proteksi, melainkan optimalisasi berdasarkan galur (strain) yang saat ini benar-benar bersirkulasi. Efektivitas vaksin lebih ditentukan oleh kesesuaian galur dengan virus yang beredar, bukan semata jumlah galurnya. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap perubahan komposisi vaksin. Hal yang terpenting adalah cakupan vaksinasi terus meningkat,” jelas Prof Iris.

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI, menambahkan, “Vaksin influenza sebaiknya dilakukan secara rutin setiap tahun. Hal ini penting karena virus influenza terus mengalami mutasi sehingga komposisi vaksin juga diperbarui secara berkala. Dengan vaksinasi tahunan, perlindungan terhadap galur virus yang sedang beredar dapat tetap optimal.”

Dr. Sukamto juga menyampaikan bahwa peningkatan cakupan vaksinasi influenza perlu didukung oleh pemahaman masyarakat yang lebih baik. Faktanya, banyak masyarakat yang menunda vaksinasi karena menganggap influenza bukan penyakit serius. Padahal, bagi kelompok berisiko, vaksinasi dapat membantu mencegah komplikasi yang serius. Edukasi kesehatan juga harus terus dilakukan agar masyarakat memahami manfaat nyata vaksinasi. Dengan peningkatan kesadaran, perlindungan populasi dapat semakin kuat.

Selain rutin dilakukan setiap tahun, vaksin influenza juga sebaiknya dilakukan dua minggu sebelum seseorang bepergian atau traveling ke wilayah yang berisiko seperti negara empat musim. Sebab, aktivitas traveling meningkatkan risiko paparan virus akibat interaksi di area publik. Risiko menjadi lebih tinggi bagi traveller dengan daya tubuh rendah, lansia, maupun yang memiliki komorbid. Vaksinasi pun menjadi solusi sebagai perlindungan tanpa batas.