Jahja juga mengingatkan perusahaan agar tidak ‘mendewakan’ KPI. Sebab, ketika penghargaan diberikan berdasarkan siapa yang mencatatkan performa terbaik, karyawan dapat terdorong untuk bekerja dalam kelompoknya masing-masing dan mengabaikan kebutuhan untuk berkolaborasi dengan divisi atau tim lain.

“Tetapi KPI itu banyak yang bilang, apa salahnya KPI paling hebat? Kalau Anda mendewakan KPI, siapa yang the best, paling besar bonus atau rewardnya, maka orang melupakan kerjasama antar divisi, antar cabang dengan pusat, antar sesama tim, yang ada adalah silo,” kata Jahja.

Lebih jauh, Jahja menjelaskan, pola kerja seperti itu dapat menciptakan silo, ketika masing-masing divisi atau tim hanya berfokus pada kepentingannya sendiri.

Karena itu, menurut Jahja, perusahaan perlu mampu menerobos sekat-sekat antardivisi dan membangun budaya kerja yang menempatkan kolaborasi sebagai bagian penting dari keberhasilan.

“Silo, silo, karena masing-masing bekerja di dalam silo sendiri. Jadi Anda harus breakthrough semua China Wall antar divisi, antar tim,” ujarnya.

Jahja mengatakan, pendekatan tersebut telah diterapkannya selama bertahun-tahun di BCA.

Menurutnya, keberhasilan perusahaan tidak semestinya hanya dilihat dari performa satu tim atau individu, melainkan dari kemampuan seluruh bagian untuk bekerja sama dan mencapai tujuan bersama.

“Itu yang saya lakukan bertahun-tahun di BCA dan itu berhasil. Sehingga kerjasama adalah keberhasilan daripada kita, bukan tim tertentu yang hebat,” pungkas Jahja.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja BCA: Kalau Leader Gagal, Jangan Salahkan Anak Buah!