Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menyoroti paradoks dalam penerapan key performance indicator (KPI) secara individual di perusahaan.

Menurutnya, KPI memang dapat menjadi instrumen untuk mendorong peningkatan kinerja dan performa individu, tetapi penerapannya secara berlebihan, terutama jika langsung dikaitkan dengan penghargaan atau reward, berpotensi mengurangi semangat kolaborasi antarkaryawan maupun antarbagian.

Jahja menilai, perusahaan tetap membutuhkan KPI sebagai alat untuk mengukur kinerja. Namun, ia mengingatkan agar pencapaian KPI individu tidak serta-merta menjadi dasar utama dalam menentukan bonus atau penghargaan karyawan.

“Bagaimana kita bekerja sama, bersaing tetapi secara sehat. Karena di dalam satu company, banyak yang saya tahu, perusahaan yang mengagumkan namanya KPI. KPI itu paling utama, performance itu langsung reflected kepada bonus si karyawan,” tukas Jahja, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Kamis (3/9/2026).

Menurut Jahja , sistem penghargaan yang terlalu berorientasi pada pencapaian KPI individu dapat membuat setiap orang lebih fokus mengejar keberhasilan dirinya sendiri atau timnya.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengesampingkan kepentingan perusahaan secara keseluruhan dan mengurangi kerja sama lintas tim.

“Gak salah, semua orang akan berjuang untuk kehebatan diri sendiri atau tim sendiri. Tetapi lupa kerja bersama, itu kejelekan dari KPI yang langsung dikaitkan dengan reward. Saya bukan mengatakan tidak ada KPI, KPI tetap ada, harus sebagai ukuran bagaimana performance,” tegasnya.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Simpan Emas Batangan di Brankas Itu Sudah Kuno