Growthmates, menjadi seorang pemimpin bukan hanya soal kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga keberanian untuk bertanggung jawab ketika keputusan tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menilai, seorang leader tidak seharusnya mencari kambing hitam ketika organisasi menghadapi kegagalan.

Menurut Jahja, pemimpin harus berani ‘pasang badan’ dan mengambil tanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil, termasuk ketika keputusan tersebut ternyata menghasilkan kinerja yang kurang baik.

“Kalau ada salah, jangan bilang saya tidak pernah melakukan kesalahan. Saya pernah melakukan kesalahan. Apa saya cari, ‘Wah, siapa sih yang usulkan usulan ini?’ Enggak. Saya bilang, ‘This is my responsibility,’” tutur Jahja, dalam sebuah video, dikutip Jumat (9/10/2026).

Jahja menuturkan, sikap tersebut penting untuk membangun kepercayaan sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang mendorong anggota tim berani menyampaikan ide dan masukan.

Sebaliknya, kata dia, pemimpin yang hanya mau menerima kredit ketika berhasil tetapi melempar kesalahan kepada bawahannya ketika gagal justru berpotensi mematikan keberanian tim untuk berinovasi.

Jahja mencontohkan, ada pemimpin yang menerima masukan dari anak buah ketika menemukan sebuah ide bagus. Namun, ketika ide tersebut berhasil, sang pemimpin justru mengklaimnya sebagai gagasan pribadi tanpa menyebut sumbernya.

“Ini tidak meng-encourage keberhasilan satu tim. Karena orang akan berpikir, ‘Wah, apa yang saya usulkan dimakan sama bos gue katanya. Ya, dia yang dapat nama,’” katanya.

Menurut Jahja, pola kepemimpinan seperti itu dapat membuat anggota tim enggan memberikan masukan terbaik. Sebab, mereka merasa keberhasilan yang berasal dari ide mereka tidak mendapatkan penghargaan yang semestinya.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Soroti Paradoks KPI: Bisa Dorong Kinerja, tetapi Berisiko Hambat Kolaborasi

Situasi berbeda terjadi ketika sebuah usulan ternyata tidak berjalan baik. Dalam kondisi tersebut, Jahja mengingatkan agar pemimpin tidak langsung menunjuk anggota tim sebagai pihak yang harus disalahkan.

“Sebaliknya, begitu ada usulan yang ternyata jelek, langsung cari kambing hitam. ‘Wah, ini si Badu yang usulkan nih. Ini saya salah karena dia gitu.’ No,” tegasnya.

Jahja justru mendorong pemimpin mengambil tanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat, termasuk jika keputusan tersebut harus dihentikan atau perusahaan harus melakukan langkah koreksi.

“Jangan khawatir, kita cut loss, cut loss. Itu tanggung jawab saya, bukan yang mengusulkan itu,” ujarnya.

Bagi Jahja, keberanian seorang leader untuk melindungi tim ketika terjadi kesalahan harus berjalan beriringan dengan kemauan memberikan penghargaan kepada anggota tim ketika mereka berhasil.

Dalam berbagai pertemuan dan rapat, ia mengaku terbiasa menyebut nama anggota tim yang memberikan kontribusi positif.

“Saya biasa, bahkan dalam pertemuan-pertemuan, dalam meeting, dalam rakernas, kalau ada sesuatu performance yang bagus, saya sebut nama orang itu. Itu adalah reward yang luar biasa,” kata Jahja.

Jahjamenilai, penghargaan sederhana berupa pengakuan atas kontribusi seseorang dapat memberikan dampak besar terhadap motivasi tim. Di sisi lain, ketika terjadi kesalahan, pemimpin seharusnya tidak buru-buru mencari siapa yang harus disalahkan.

Terakhir, Jahja menekankan, kepemimpinan yang sehat pada akhirnya bukan tentang membangun citra atau mempertahankan ego pribadi, melainkan bagaimana seorang pemimpin dapat membuat tim berkembang bersama.

“Sehingga kalau Anda berani bertindak seperti itu, maka anak buah Anda akan fully support Anda. Ya, akan memberikan masukan yang the best. Dan Anda akan benar-benar bisa berkembang secara bersama,” tutup Jahja.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Simpan Emas Batangan di Brankas Itu Sudah Kuno