PT Pertamina (Persero) menjalankan strategi dual growth sebagai upaya menjaga ketahanan energi di Indonesia. Strategi ini berjalan melalui dua jalur: pertama, memaksimalkan bisnis eksisting atau legacy business, terutama dalam penyediaan energi berbasis minyak dan gas; serta kedua, membangun bisnis rendah karbon melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta berbagai teknologi rendah karbon.

Pendekatan dual growth menjadi penting karena transisi energi tidak bisa dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan energi saat ini. Di tengah permintaan energi yang terus tumbuh dan ketidakpastian geopolitik, Pertamina tetap perlu memastikan energi tersedia secara aman, andal, berkualitas, dan berkesinambungan, sembari menyiapkan sumber energi baru untuk kebutuhan jangka panjang.

Baca Juga: Pertamina Bantah STNK Jadi Syarat Beli BBM Subsidi

Pada sisi pertama, Pertamina terus memperkuat bisnis legacy sebagai fondasi ketahanan energi nasional. Penguatan produksi minyak dan gas menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan energi dari dalam negeri. Di sektor pengolahan, optimalisasi aset kilang juga diarahkan untuk memastikan kemampuan pengolahan dan pasokan energi tetap terjaga di tengah perubahan kebutuhan dan dinamika pasar.

Namun, pertumbuhan Pertamina tidak berhenti di sana. Jalur kedua dalam strategi dual growth diarahkan untuk membangun sumber energi dan bisnis baru yang akan semakin penting di masa depan. Salah satu fokusnya adalah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), termasuk panas bumi dan energi surya, serta pengembangan bahan bakar nabati. Pertamina juga mengembangkan berbagai teknologi rendah karbon yang dapat mendukung proses transisi energi, termasuk carbon captureutilization and storage (CCUS), dan hidrogen rendah karbon. 

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina memperluas sumber energi sekaligus memanfaatkan potensi domestik. Melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE), misalnya, Pertamina mengelola kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.932 megawatt (MW), terdiri dari 727 MW yang dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas tersebut setara sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional.

Strategi Pertamina Hadapi Transisi Energi 

Strategi dual growth Pertamina mendapat penilaian positif dari ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal. Menurut Faisal, pendekatan tersebut tepat karena Pertamina perlu menjaga bisnis yang selama ini menjadi fondasi perusahaan, sekaligus menyiapkan sumber pertumbuhan baru seiring perubahan lanskap energi.

Faisal menjelaskan, bisnis minyak dan gas masih perlu dipertahankan karena sektor tersebut tetap memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi domestik. Namun, pada saat yang sama, Pertamina juga perlu mengantisipasi tantangan jangka panjang karena minyak dan gas merupakan sumber energi tidak terbarukan dengan cadangan yang semakin terbatas.

Karena itu, pengembangan EBT menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. "Harus mencari sumber lain di luar migas untuk yang kaitannya dengan energi, untuk mendorong ketahanan energi dan memenuhi kebutuhan domestik yang semakin terus mengalami peningkatan sejalan dengan upaya juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," ujar Faisal, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (9/9/2026). 

Faisal melihat peluang tersebut semakin besar karena Indonesia memiliki potensi EBT yang beragam, mulai dari energi surya, hidro, angin hingga panas bumi. Pengembangan sumber-sumber tersebut, menurutnya, dapat menjadi arah pertumbuhan Pertamina ke depan.

Meski begitu, Faisal menilai pergeseran dari migas menuju EBT perlu dilakukan secara bertahap. Bisnis migas dapat tetap menjadi penopang selama Pertamina membangun ekosistem energi baru. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai safe transition. Dengan mempertahankan bisnis migas sembari meningkatkan pengembangan EBT, Pertamina dapat menghindari perubahan yang terlalu mendadak terhadap kinerja perusahaan.