4. Studi Lain Menunjukkan Tantangan Serupa

Temuan ini sejalan dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang mengungkap bahwa sebagian pasangan mungkin masih merasa tidak nyaman ketika perempuan menghasilkan lebih banyak daripada pasangannya.

Studi yang dilakukan ekonom Universitas Chicago, Marianne Bertrand, pada 2015 menemukan adanya pola menarik dalam pelaporan pendapatan rumah tangga. Pendapatan istri cenderung terkonsentrasi tepat di bawah angka 50 persen dari total penghasilan keluarga.

Fenomena tersebut memunculkan dugaan bahwa sebagian pasangan, secara sadar maupun tidak, masih merasa kurang nyaman mengakui kondisi ketika perempuan menjadi pencari nafkah utama.

Sementara itu, penelitian di Prancis menemukan bahwa pasangan di mana perempuan menyumbang sekitar 75 persen pendapatan rumah tangga memiliki kemungkinan berpisah sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan pasangan dengan pendapatan yang lebih seimbang.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa angka tersebut tidak membuktikan bahwa penghasilan perempuan yang lebih tinggi menyebabkan perceraian. Hubungan manusia jauh lebih kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.

5. Masyarakat Sudah Berubah, tetapi Hubungan Belum Sepenuhnya Beradaptasi

Menariknya, sikap masyarakat terhadap perempuan berpenghasilan tinggi sebenarnya semakin positif.

Analisis yang disorot oleh The Economist menunjukkan bahwa pada 2022 hanya sekitar 10 persen warga Amerika Serikat yang menganggap perempuan yang berpenghasilan lebih tinggi dari suaminya sebagai sesuatu yang bermasalah.

Angka tersebut turun drastis dibandingkan tahun 1998, ketika lebih dari sepertiga responden masih memiliki pandangan serupa.

Perubahan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin menerima perempuan sebagai sosok yang sukses secara finansial. Namun, perubahan budaya di ruang publik tampaknya belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan dinamika dalam hubungan pribadi.

6. Kunci Hubungan Sehat Bukan Siapa yang Berpenghasilan Lebih Tinggi

Nah Growthmates, pada akhirnya, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukanlah soal jumlah pendapatan, melainkan bagaimana pasangan memaknai peran, tanggung jawab, dan nilai diri masing-masing.

Kesuksesan seorang perempuan tidak seharusnya membuat pria merasa kehilangan harga diri. Begitu pula, pendapatan yang lebih rendah tidak menentukan nilai seorang suami dalam keluarga. Di sisi lain, perempuan yang menghasilkan lebih banyak juga tidak seharusnya menanggung beban domestik yang lebih besar sendirian.

Hubungan yang sehat tampaknya lebih ditentukan oleh rasa saling menghargai, pembagian tanggung jawab yang adil, serta kemampuan pasangan untuk melepaskan ekspektasi lama tentang peran gender.

Sebab pada akhirnya, uang memang dapat memengaruhi dinamika hubungan, tetapi tidak seharusnya menjadi ukuran siapa yang lebih penting dalam sebuah pernikahan.

Baca Juga: Biar Gaji Gak Numpang Lewat, Ini Strategi Cerdas Generasi Sandwich Mengatur Keuangan