Stres merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Namun, tidak semua stres berdampak sama pada tubuh dan pikiran.

Menurut ahli biologi molekuler sekaligus science communicator, Dr. Riza Arief Putranto, DEA, perbedaan durasi stres sangat menentukan dampaknya bagi kesehatan mental dan fisik seseorang.

Dr. Riza memaparkan, stres sesaat umumnya bersifat sementara dan masih bisa diatasi oleh tubuh dengan cepat.

“Stres aku tuh biasanya terjadi dalam hitungan waktu menit hingga jam, kemudian selesai, kita bisa mengatasinya. Kembali ke state normal,” papar Dr. Riza, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari @room.4improvement, Senin (6/7/2026).

Namun, lanjut Dr. Riza, yang menjadi perhatian utama adalah stres kronis, yaitu kondisi stres yang berlangsung lebih lama dan dapat bertahan dalam hitungan minggu hingga tahun.

“Tapi ada stres kronis, stres kronis itu yang bisa hitungannya mingguan hingga tahunan,” lanjutnya.

Menurut Dr. Riza, sebagian besar stres kronis pada manusia modern berkaitan erat dengan hajat hidup yang paling mendasar, terutama persoalan ekonomi.

“Stres yang paling besar dialami oleh orang itu umumnya adalah sesuatu yang berkaitan dengan hajat hidup dia. Itu paling besar. Ekonomi, satu. Percintaan, nomor dua,” jelasnya.

Dr. Riza pun menekankan bahwa tekanan finansial sering menjadi pemicu utama yang paling dominan dalam kehidupan banyak orang, disusul oleh persoalan relasi dan percintaan yang juga memberi dampak emosional signifikan.

Lebih lanjut, Dr. Riza juga menyoroti aspek biologis perkembangan otak manusia. Ia mengingatkan bahwa kemampuan berpikir matang dan mengambil keputusan secara logis baru berkembang penuh pada usia sekitar 25 tahun, bukan 17 tahun seperti yang sering disalahpahami.

“Secara umum sampai usia 25 tahun, otak kita berkembang sempurna. 25 tahun, bukan 17. Artinya kita bisa berpikir logis, mengambil keputusan baik dan benar itu ketika seseorang berusia di atas kira-kira 25 tahun,” katanya.

Baca Juga: 3 Cara Mengelola Stres dan Tetap Tenang ala CEO Google

Lebih jauh, Dr. Riza menjelaskan bahwa faktor genetik memang memiliki pengaruh, termasuk dalam hal kecenderungan emosi dan respons terhadap stres. Namun, bukan berarti manusia sepenuhnya ditentukan oleh warisan biologis.

“Kalau orang tuanya stres, depresi, marah, kita hanya akan mewarisi 50% dari sifat-sifat itu. Genetiknya turun ke kita 50%, sisanya tergantung dari kita,” ujarnya.

Dengan kata lain, lingkungan, pengalaman hidup, dan pilihan pribadi memiliki peran besar dalam membentuk bagaimana seseorang merespons tekanan hidup.

Kemudain, Dr. Riza juga menyoroti bagaimana energi negatif dari lingkungan sekitar dapat memengaruhi seseorang lebih kuat dibandingkan energi positif. Bahkan, dampaknya disebut bisa berkali lipat lebih besar.

“Kita tiga kali lebih gampang kena impact negatif dari seseorang yang negatif ketimbang yang positif,” jelasnya.

Karena itu, Dr. Riza menekankan pentingnya menjaga lingkungan sosial yang sehat serta membangun ketahanan mental melalui kebiasaan positif.

Dalam pandangannya, setiap individu tetap memiliki kendali atas arah hidupnya, terlepas dari kondisi awal yang tidak ideal.

“Kalau Anda terlahir susah, itu tidak apa-apa. Tapi kalau Anda mati susah, it's on you,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa upaya untuk melawan pengaruh negatif membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menerima pengaruh positif.

“Kita butuh lima kali effort, lima kali positivity untuk mengatasi satu negativity,” pungkas Dr. Riza.

Baca Juga: 8 Kota di Dunia dengan Tingkat Stres Tertinggi dan Faktor Pemicunya