Industri perhotelan kini tidak hanya dituntut mampu menawarkan harga yang kompetitif, tetapi juga memastikan informasi mengenai ketersediaan kamar, tipe kamar, dan harga tetap akurat di berbagai kanal pemesanan online. Tantangan tersebut mendorong SiteMinder menghadirkan Dynamic Commerce Engine, teknologi yang dirancang untuk membantu hotel mengoptimalkan strategi komersial sekaligus menutup kesenjangan antara rekomendasi dan pelaksanaannya.
SiteMinder, platform hotel commerce, meluncurkan Dynamic Commerce Engine pada 22 September 2026 untuk membantu hotel memaksimalkan pendapatan melalui berbagai aspek komersial, mulai dari penetapan harga hingga distribusi.
Selama ini, teknologi yang digunakan hotel umumnya berfokus pada pemberian rekomendasi harga berdasarkan tingkat permintaan. Dynamic Commerce Engine melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan machine learning (ML) dan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi sekaligus memberikan rekomendasi optimasi di berbagai aspek komersial hotel.
Tidak hanya harga, teknologi tersebut juga menyasar fondasi distribusi yang menjadi bagian penting dalam perjalanan pemesanan. Sejumlah persoalan seperti koneksi saluran distribusi yang terputus atau tipe kamar yang tidak terpetakan dapat menghambat potensi pendapatan hotel. Masalah-masalah tersebut kerap luput dari perhatian, meski dapat menciptakan biaya peluang yang signifikan bagi bisnis perhotelan.
Dynamic Commerce Engine memanfaatkan skala data dan kemampuan distribusi SiteMinder yang telah berkembang selama 20 tahun. Platform tersebut saat ini digunakan oleh pengelola 56.000 properti individu dan mengelola sekitar 2,6 juta kamar hotel, 140 juta pemesanan, serta 300 juta malam menginap setiap tahun.
Model machine learning yang terintegrasi di dalam platform juga memanfaatkan hampir 4 miliar sinyal availability, rates, and inventory (ARI) untuk mengidentifikasi peluang optimasi pada setiap properti. Dari data tersebut, sistem dapat memberikan rekomendasi yang dinilai paling relevan bagi masing-masing hotel.
Meski mengandalkan AI, keputusan tetap berada di tangan pengelola hotel. Dynamic Commerce Engine dirancang agar pengguna dapat meninjau dan menyetujui setiap perubahan yang direkomendasikan sebelum perubahan tersebut diterapkan oleh mesin.
CEO dan Managing Director SiteMinder, Sankar Narayan, mengatakan, teknologi tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan hotel yang harus mengikuti perubahan industri pariwisata, tetapi sering kali memiliki keterbatasan waktu maupun sumber daya.
“Hotel ingin mengikuti perkembangan lanskap pariwisata yang terus berubah, namun mereka tidak selalu memiliki waktu atau sumber daya untuk melakukannya. Akibatnya, tetap tersedia secara online sering kali menjadi pilihan paling sederhana,” tutur Sankar, dikutip dari keterangan resminya, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menciptakan kesenjangan antara strategi yang ingin dijalankan hotel dengan pelaksanaan di lapangan. Karena itu, Dynamic Commerce Engine tidak hanya diarahkan untuk membantu hotel menemukan peluang, tetapi juga membantu mengimplementasikan rekomendasi tersebut dengan tetap memberikan kendali kepada pengelola hotel.
“Pilihan ini telah dilakukan oleh terlalu banyak hotel dalam waktu yang terlalu lama dan menciptakan kesenjangan antara niat dan tindakan, yaitu kesenjangan dalam pelaksanaan. Dynamic Commerce Engine dari SiteMinder menunjukkan bahwa AI tidak hanya dapat membantu hotel mengidentifikasi peluang, tetapi juga membantu menutup kesenjangan antara rekomendasi dan pelaksanaannya, dengan tetap memastikan pengelola hotel memegang kendali penuh,” katanya.
Baca Juga: Permintaan Wisatawan Asing Meningkat, Hotel di Indonesia Diprediksi Kembali Tumbuh pada September
Kehadiran teknologi tersebut juga berkaitan dengan semakin pentingnya akurasi informasi hotel di berbagai kanal online. Berdasarkan penelitian terbaru SiteMinder terhadap lebih dari 12.000 wisatawan di 14 negara, termasuk Indonesia, sebanyak 51,4% responden mengaku pernah membatalkan pemesanan hotel secara online karena mendapatkan pengalaman yang buruk.
Dari jumlah tersebut, 26,5% responden menyebut keputusan membatalkan pemesanan dipengaruhi oleh ulasan, foto, atau informasi mengenai hotel yang dinilai tidak dapat dipercaya. Temuan ini menunjukkan bahwa informasi yang tersedia secara online dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan sebelum melakukan pemesanan.
Pengalaman tersebut turut dirasakan Kamilia Rudolf, salah satu pelanggan hotel yang membagikan pengalamannya ketika mencari dan memesan akomodasi secara online.
“Ketika informasi di internet tidak lengkap atau foto yang ditampilkan tidak menggambarkan kondisi hotel yang sebenarnya, saya menghabiskan banyak waktu untuk mencari ulasan atau video tur kamar dari wisatawan lain sebelum memutuskan apakah akan memesan,” kata Kamilia.
Bagi SiteMinder, persoalan distribusi karena itu tidak dapat dipisahkan dari pengalaman tamu. Hotel perlu memastikan informasi yang tersedia di berbagai kanal tetap konsisten sehingga calon tamu dapat mengetahui ketersediaan kamar dan menemukan pilihan harga sesuai kebutuhannya.
Sankar menilai pendekatan terhadap AI dalam industri perhotelan juga perlu berkembang. Menurutnya, laporan dan asisten berbasis AI saja tidak cukup jika hotel masih harus terus-menerus mencari sendiri peluang yang dapat dioptimalkan.
“Laporan dan asisten AI saja tidak lagi cukup. Hotel perlu mengetahui peluang mana yang benar-benar penting tanpa harus terus-menerus meminta sistem mereka untuk menemukannya, sekaligus memiliki kemampuan untuk mengubah peluang tersebut menjadi pendapatan. Inilah yang kami wujudkan,” terang Sankar.
Ia menambahkan, optimalisasi pendapatan hotel tidak seharusnya hanya berfokus pada penetapan harga. Fondasi distribusi juga perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan informasi yang diterima calon tamu saat mencari dan memesan kamar.
“Penetapan harga tidak boleh menjadi satu-satunya fokus. Perhatian yang sama perlu diberikan pada fondasi distribusi di bawahnya karena hal tersebut berdampak langsung pada pengalaman tamu. Dengan distribusi yang dioptimalkan, tamu dapat mengetahui ketersediaan kamar dan menemukan harga yang sesuai dengan keinginan mereka,” tutup Sankar.
Baca Juga: Mews dan SiteMinder Kolaborasi Hadirkan Solusi Teknologi Hotel Terintegrasi Berbasis AI