Profesor Riset BRIN, Delima Hasri Azahari, menjelaskan kondisi petani Indonesia sebagai "jebakan komoditas", yakni kondisi Indonesia yang kaya sumber daya pertanian, tetapi sebagian besar nilai ekonomi justru tercipta pada tahap pengolahan, bukan produksi. Oleh karena itu, Delima berpendapat hilirisasi semakin dipandang sebagai solusi struktural. Caranya adalah dengan mengolah hasil pertanian menjadi produk turunan bernilai tambah, petani memiliki peluang lebih besar untuk terhubung dengan rantai nilai yang lebih menguntungkan.
Senada, Guru Besar Ilmu Kebijakan Agribisnis IPB Prof. Bayu Krisnamurthi menilai hilirisasi bukan sekadar industrialisasi. Menurutnya, hilirisasi merupakan jalan keluar dari kemiskinan karena membuka akses petani terhadap pasar dan nilai ekonomi yang lebih besar. Implementasinya dimulai melalui groundbreaking hilirisasi fase pertama Danantara Indonesia pada Februari 2026, yang mencakup sektor pertanian dan peternakan seperti hilirisasi unggas terintegrasi. Hilirisasi ini menyatukan rantai pasok dari hulu (pembibitan dan pakan) hingga hilir (pengolahan produk dan pemasaran) untuk memberdayakan peternak rakyat, menjaga stabilitas harga, serta mendukung program nasional.
Baca Juga: BPDP Dukung Hilirisasi Sawit Lewat Partisipasi di Hai Sawit Simposium 2026
Beriringan dengan unggas, Danantara pada April 2026 juga melakukan groundbreaking hilirisasi kelapa sawit, pala, dan kelapa. Keberadaan industri pengolahan diharapkan mampu menyerap hasil panen dengan harga yang lebih adil dan stabil. Selain meningkatkan pendapatan petani, langkah ini juga memperkuat rantai pasok pangan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mengekspor bahan mentah. Ke depan, menurutnya, yang harus didorong adalah hilirisasi pertanian. "Produk kita harus masuk ke rantai nilai global supaya petani mendapat keuntungan lebih besar dan negara memperoleh devisa yang lebih kuat," kata Andi dalam keterangan tertulisnya, Senin (22/6/2026).
Pandangan serupa disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada Groundbreaking Hilirisasi Fase-2 Danantara April lalu. "Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita tidak mau hanya menjual buah kelapa. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia," ungkap Prabowo.
Dalam perspektif yang lebih luas, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan bahwa proyek-proyek hilirisasi diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Jika dijalankan secara konsisten, Rosan meyakini, hilirisasi dapat menjadi titik balik transformasi pertanian Indonesia, dari pengekspor bahan mentah menjadi penghasil produk bernilai tambah yang menyejahterakan petani sekaligus memperkuat ekonomi nasional.
Rosan juga optimistis proyek-proyek hilirisasi akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis, menurut Rosan, hilirisasi akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemandirian industri dan mendorong Indonesia menuju ekonomi yang lebih maju dan bernilai tambah tinggi.