‎Tak hanya mengandalkan kepercayaan, Soetikno juga dikenal sangat kreatif dalam menjalankan usaha. Pada saat itu, pilihan warna cat impor yang tersedia sangat terbatas, hanya sekitar 12 warna. 

‎Namun, keterbatasan tersebut justru mendorongnya untuk mencari solusi yang inovatif.

‎Hermanto menceritakan bahwa sang Ayah mempelajari teknik mencampur warna cat agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan pelanggan, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun.

‎"Pada saat itu papa saya sangat kreatif. Bagaimana toko kecil dengan cat impor yang warnanya hanya 12 warna bisa melayani pelanggan-pelanggannya. Dia belajar mencampur cat untuk bisa menerima orderan dari satu ons, dua ons, setengah kilo, satu kilo, lima kilo, dan seterusnya," terang Hermanto.

‎Dikatakan Hermanto, keahlian tersebut menjadi nilai tambah yang membuat toko cat milik Soetikno semakin dikenal masyarakat. Pelanggan datang karena bisa mendapatkan warna yang lebih beragam sesuai kebutuhan mereka.

‎Seiring meningkatnya permintaan, usaha yang awalnya beroperasi di ruang sempit itu berkembang pesat. 

‎Dan, dalam waktu relatif singkat, Soetikno mampu memperluas area usahanya dengan membeli lahan di sekitar toko.

‎"Setelah papa saya ekspert, toko cat itu bisa terus berkembang dengan pesat, sehingga dalam waktu dua tahun bisa membeli lahan sebelah kanan, kiri, belakang, menjadi sebuah toko cat yang sangat ramai," tutur Hermanto.

‎Perkembangan pesat tersebut pun akhirnya menjadi fondasi penting bagi perjalanan bisnis keluarga Tanoko. 

‎Setelah sukses membesarkan toko catnya, Soetikno kemudian melangkah ke tahap berikutnya dengan mendirikan pabrik cat pada tahun 1978, yang kelak menjadi cikal bakal lahirnya Avian Group sebagai salah satu pemain utama industri cat nasional.

Baca Juga: Deretan Bisnis Milik Hermanto Tanoko, Pemilik TANCORP