Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pemerintah harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kemampuan fiskal negara agar tidak terbebani secara berlebihan.
"Tapi dengan menunda terus, negara sudah memperhitungkan juga. Jangan sampai nanti misalnya pemerintahnya jadi pangkrut. Itu kan mempertimbangkan keseimbangan," jelasnya.
Terkait kenaikan harga Pertamax yang mencapai sekitar 32 persen, Fuad menilai, besaran tersebut masih wajar dan telah melalui pertimbangan yang matang dari pemerintah maupun Pertamina.
"Ya memang naiknya harus begitu. Sudah lama apalagi," kata Fuad.
Saat ditanya apakah kenaikan tersebut terlalu besar, ia menjawab bahwa angka itu masih dapat diterima mengingat kondisi harga minyak dunia saat ini.
"Ya, saya kira tidak. Tentu pemerintah sudah mempertimbangkan itu," tukasnya.
Fuad juga menegaskan bahwa kebijakan harga BBM bersifat dinamis dan dapat disesuaikan kembali jika harga minyak dunia mengalami penurunan.
"Menurut saya sudah oke. Tapi nanti insya Allah kalau harga turun, akan turunkan lagi. Masih akan turunkan lagi," pungkasnya.
Baca Juga: Kenaikan Harga Pertamax Minim Timbulkan Risiko Gejolak Sosial