Harga smartphone yang beredar di pasaran mengalami kenaikan cukup signifikan. Bahkan, sejumlah merek telah melakukan penyesuaian harga sejak akhir tahun lalu, dengan kenaikan yang disebut berada di kisaran 30% hingga 50%.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri gadget, terutama di tengah masyarakat yang mulai menahan pengeluaran untuk barang yang dianggap bukan kebutuhan utama.

Head of Operations Digiplus Erwin Renehan mengatakan kenaikan harga perangkat sudah terjadi sejak akhir tahun lalu dan salah satu faktor yang memengaruhinya adalah kenaikan harga chipset.

Baca Juga: Digiplus Targetkan Buka 150 Gerai hingga Akhir 2026, Mulai Geser dari Mal ke Street Level

“Banyak banget penyesuaian. Rata-rata kenaikannya 30-50 persen,” ujar Erwin saat ditemui seusai pembukaan Digiplus Terogong, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026).

Kenaikan harga tersebut berpotensi menekan daya beli konsumen. Namun, Digiplus melihat smartphone memiliki posisi yang berbeda dibandingkan sejumlah produk konsumsi lainnya.

Menurut Erwin, penggunaan smartphone kini sudah semakin melekat dalam aktivitas sehari-hari. Perangkat tersebut tidak lagi sekadar menjadi barang penunjang, tetapi telah menjadi bagian dari kebutuhan harian masyarakat.

“Kalau handphone itu kayaknya sudah menjadi kebutuhan pertama. Udah bukan lagi primer, sekunder, tersier. Ini kayaknya udah jadi kebutuhan, udah daily needs,” katanya.

Kondisi tersebut membuat perusahaan tetap melihat peluang di tengah tekanan daya beli. Salah satu caranya adalah menyediakan pilihan perangkat dalam rentang harga yang lebih luas.

Baca Juga: Digiplus Buka Gerai ke-100, Usung Konsep Free Standing Store Pertama di Indonesia

Digiplus saat ini menjual smartphone dan perangkat lain dari berbagai merek, dengan pilihan harga mulai sekitar Rp3 jutaan hingga puluhan juta rupiah.

Dari sisi volume penjualan, perangkat Android menjadi kontributor terbesar. Sementara berdasarkan nilai transaksi, produk Apple menjadi salah satu kontributor utama.

Untuk membuat harga perangkat tetap lebih terjangkau, Digiplus juga mengandalkan berbagai skema pembiayaan dan promosi. Di antaranya cashback bank, cicilan melalui lembaga pembiayaan non-bank atau NBFI, layanan buy now pay later (BNPL), hingga program trade-in.

Skema tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan konsumen ketika harga perangkat mengalami kenaikan.

“Pinter-pinternya kita untuk bisa menjadi impuls baik buat konsumen. Gadget pun kita, kayak misalnya di Digiplus kita ada banyak brand dan itu memenuhi kebutuhan dari yang harga Rp3 jutaan sampai harga Rp40 jutaan,” ujar Erwin.

Di sisi lain, tren kenaikan harga perangkat diperkirakan masih menjadi perhatian industri hingga awal tahun depan. Pelaku industri dan importir disebut masih menghadapi berbagai faktor biaya dan regulasi yang dapat memengaruhi harga produk.

Erwin mengatakan, pihaknya juga terus menjajaki berbagai kemungkinan bersama distributor dan pihak terkait agar tekanan kenaikan harga dapat ditekan.

Sementara itu, bisnis ritel MAP secara keseluruhan masih mencatat pertumbuhan pada paruh pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, MAP mencatat pendapatan bersih Rp24,15 triliun, tumbuh 23,36% dibandingkan Rp19,58 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat 26,49% secara tahunan menjadi Rp1,21 triliun dari Rp960,92 miliar.

Di tengah kenaikan harga perangkat dan daya beli yang masih menjadi tantangan, Digiplus melihat kebutuhan terhadap smartphone tetap menjadi salah satu penopang pasar. Strategi perusahaan pun diarahkan untuk memberikan lebih banyak pilihan harga sekaligus skema pembayaran agar konsumen tetap memiliki ruang untuk membeli perangkat sesuai kebutuhannya.