GERD atau gastroesophageal reflux disease tidak hanya dialami orang dewasa. Kondisi ini juga mulai ditemukan pada anak-anak, sehingga pola makan dan kebiasaan setelah makan perlu menjadi perhatian orang tua.

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) sekaligus Profesor di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, Sp.PD, K-GEH, FACG, FACP, menyoroti kebiasaan anak mengonsumsi makanan tertentu, kemudian langsung berbaring setelah makan.

“Anak-anak dari kecil sudah dibiasakan makan cokelat dan keju. Anak-anak kan cenderung kalau habis makan langsung ditidurin,”tutur Prof. Ari, saat ditemui awak media usai acara peluncuran Fexuprazan, dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026, yang digelar di Shangri-La Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dikatakan Prof. Ari, anak-anak sebaiknya tidak langsung tidur setelah makan. Memberikan jeda sekitar dua hingga tiga jam sebelum berbaring dapat menjadi salah satu kebiasaan yang perlu diterapkan untuk membantu mengurangi risiko refluks.

“Sebaiknya, sebelum tidur ada dua jam (jeda), dua-tiga jam itu mesti (jeda), jangan ditidurin langsung. Jadi, sehabis minum susu tuh jangan langsung tidur,” katanya.

Selain mengatur waktu tidur setelah makan, aktivitas fisik juga penting. Prof. Ari mengingatkan agar anak tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dalam posisi pasif, termasuk bermain dengan gawai, dan tetap memiliki kesempatan untuk bergerak serta beraktivitas secara aktif.

Makan Berlebihan Bisa Memicu Refluks

Selain itu, Prof. Ari juga mengingatkan, kebiasaan makan dalam jumlah berlebihan juga perlu diperhatikan, termasuk ketika seseorang menikmati hidangan dengan konsep all you can eat (AYCE).

Prof. Ari menjelaskan, lambung akan mengalami dilatasi ketika menerima makanan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kondisi tersebut dapat membuat makanan belum sempat bergerak ke saluran pencernaan berikutnya, sementara tekanan di lambung meningkat dan mendorong isi lambung kembali ke arah kerongkongan.

Baca Juga: Waspada! GERD Erosif Bisa Sebabkan Luka dan Penyempitan Kerongkongan, Ini Penjelasan Dokter Ahli

“Dalam waktu singkat, si lambung itu kan dilatasi, jadi lambung itu bengkak dalam waktu singkat. Makanan kan butuh waktu untuk turun ke bawah. Karena ini kan seperti bottleneck. Belum sempat dia turun ke bawah, dia kembali ke arah atas,” jelasnya.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak makan secara terburu-buru maupun berlebihan.

“Jangan buru-buru. Sunah Nabi, berhenti makan sebelum kenyang,” tutur Prof. Ari.

Prevalensi GERD Berbeda Berdasarkan Metode Penelitian

Lebih lanjut, Prof. Ari pun menuturkan, GERD merupakan kondisi yang cukup banyak ditemukan di masyarakat. Namun, Prof. Ari menjelaskan bahwa angka kejadiannya dapat berbeda bergantung pada metode penelitian dan kelompok yang diteliti.

“Tiga tahun yang lalu itu angkanya 9,5 persen. Kemudian saya juga melakukan survei. Kalau survei itu kan kadang-kadang orang datang untuk survei itu sampai 50 persen,” ujarnya.

Pada studi berbasis rumah sakit, angka GERD juga ditemukan cukup tinggi pada pasien yang datang dengan keluhan lambung dan kemudian menjalani pemeriksaan endoskopi.

“Dari studi rumah sakit misalnya, pada pasien-pasien yang sakit lambung, ketika diteropong ternyata didapat angka 40 persen ada GERD,” kata Prof. Ari.

Sementara dari pemeriksaan endoskopi, sebagian besar pasien GERD berada pada grade A dan B. Adapun sekitar 20-30 persen lainnya berada pada tingkat yang lebih lanjut.

Perbedaan angka tersebut perlu dilihat berdasarkan karakteristik masing-masing penelitian. Survei masyarakat, survei daring, dan studi berbasis rumah sakit memiliki populasi serta metode yang berbeda sehingga hasilnya tidak dapat dibandingkan secara langsung.

Baca Juga: Daewoong Luncurkan Fexuprazan di Indonesia, Hadirkan Terapi P-CAB Baru untuk GERD