Selama bertahun-tahun, kanker payudara identik dengan wanita berusia di atas 50 tahun. Namun kini, anggapan tersebut mulai bergeser. Rumah sakit di berbagai negara melaporkan peningkatan kasus kanker payudara pada wanita usia akhir 20-an hingga 30-an.

Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Para ahli menilai, peningkatan ini merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari perubahan gaya hidup modern, pola reproduksi, hingga kondisi kesehatan metabolik yang berkembang dalam dua dekade terakhir.

Meskipun faktor genetik tetap berperan, para dokter menegaskan bahwa gaya hidup dan keputusan reproduksi memiliki pengaruh besar terhadap risiko. Namun, perlu diketahui bahwa banyak dari faktor ini masih bisa dikendalikan.

Menurut Dr. Arun Kumar Giri, ahli onkologi bedah, peningkatan kasus kanker payudara pada wanita muda tidak lepas dari perubahan besar dalam gaya hidup modern.

Urbanisasi telah menggeser rutinitas harian secara signifikan, di mana banyak wanita kini terbiasa duduk dalam waktu lama, memiliki pola makan yang tidak teratur, kurang tidur, serta menghadapi stres kronis.

Kombinasi kebiasaan ini dapat mengganggu keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan jaringan payudara. Kekhawatiran ini juga diperkuat oleh laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencatat adanya peningkatan kasus kanker payudara pada usia lebih muda di berbagai belahan dunia.

Dan, dikutip dari Times of India, Senin (30/3/2026), berikut sejumlah faktor yang memicu kanker payudara menyerang usia muda.

Kehamilan yang Ditunda dan Dampaknya

Salah satu faktor penting yang semakin sering disorot adalah penundaan kehamilan. Secara biologis, kehamilan pada usia muda, sebelum 30 tahun, diketahui memberikan efek perlindungan terhadap kanker payudara karena memicu pematangan sel-sel payudara lebih awal, sehingga membuatnya lebih tahan terhadap mutasi.

Sebaliknya, wanita yang menunda kehamilan hingga di atas usia 30 tahun, melahirkan pertama kali setelah 35 tahun, atau bahkan tidak memiliki anak, cenderung menghadapi risiko yang lebih tinggi.

Hal ini berkaitan dengan paparan hormon estrogen dan progesteron dalam jangka waktu yang lebih lama, yang dapat merangsang pertumbuhan sel secara berlebihan dan meningkatkan peluang terbentuknya sel abnormal.

Baca Juga: Ahli: Perubahan Sel Jadi Pemicu Utama Kanker Payudara

Kenaikan Berat Badan

Kenaikan berat badan setelah usia 20 tahun juga menjadi faktor penting yang kerap luput dari perhatian. Banyak yang tidak menyadari bahwa jaringan lemak dalam tubuh bukan sekadar tempat penyimpanan energi, melainkan juga berperan sebagai penghasil hormon, termasuk estrogen.

Ketika kadar estrogen meningkat, risiko terhadap beberapa jenis kanker payudara pun ikut bertambah. Kondisi ini menjadi semakin mengkhawatirkan apabila obesitas terjadi bersamaan dengan penundaan kehamilan, karena keduanya dapat saling memperkuat peningkatan risiko secara signifikan.

Gaya Hidup Modern

Perubahan gaya hidup dalam dua dekade terakhir telah membawa dampak besar terhadap kesehatan, terutama dengan semakin maraknya kebiasaan kurang bergerak, konsumsi makanan olahan tinggi gula dan lemak, stres berkepanjangan, serta pola tidur yang tidak teratur.

Tanpa disadari, pola hidup ini dapat memicu berbagai gangguan dalam tubuh seperti peradangan kronis, resistensi insulin, dan ketidakseimbangan hormon. Kombinasi kondisi tersebut kemudian menciptakan lingkungan internal yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan sel kanker.

Alkohol, Rokok, dan Paparan Bahan Kimia

Selain faktor gaya hidup, paparan zat tertentu juga berperan dalam meningkatkan risiko kanker payudara, meski sering kali diabaikan. Konsumsi alkohol, bahkan dalam jumlah sedang, dapat meningkatkan kadar estrogen sekaligus merusak DNA sel.

Kebiasaan merokok pun membawa dampak jangka panjang karena zat karsinogen dalam tembakau dapat merusak jaringan payudara secara perlahan.

Tak hanya itu, bahan kimia pengganggu hormon yang banyak ditemukan dalam plastik, kosmetik, dan produk rumah tangga juga patut diwaspadai, karena dapat meniru kerja hormon dalam tubuh dan mengganggu keseimbangan alami.

Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Meski tidak semua kasus kanker payudara dapat dicegah, risikonya tetap bisa ditekan melalui perubahan gaya hidup yang sederhana namun konsisten. Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan sehat seperti buah, sayur, biji-bijian, dan sumber antioksidan berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh.

Upaya ini perlu dilengkapi dengan membatasi konsumsi alkohol, menghindari rokok, serta memastikan waktu tidur yang cukup dan berkualitas.

Di samping itu, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan payudara secara mandiri dan menjalani skrining kesehatan secara berkala juga sangat penting. Dengan deteksi dini, peluang kesembuhan dapat meningkat secara signifikan.

Baca Juga: Psikolog Madelina Mutia Ungkap Sederet Mitos Teratas Seputar Kanker Payudara