Studi terbaru Indonesia Health Development Center (IHDC) menunjukkan bahwa gangguan penglihatan pada anak menjadi salah satu faktor penghambat kemampuan kognisi anak-anak. Dengan responden sebanyak 1.007 siswa yang mencakup empat Sekolah Dasar Negeri (SDN) di wilayah Jakarta, studi tersebut menemukan bahwa 68,5 persen responden masuk kategori fungsi kognitif sehari-hari kurang baik, sementara 49,3 persen memiliki skor harapan masa depan rendah.
Studi ini mengidentifikasi fungsi kognitif harian mencakup kemampuan untuk memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan mengolah apa yang dipelajari.
Baca Juga: Susu Cokelat Cuma Minuman Manis atau Punya Manfaat Kesehatan?
Direktur Eksekutif IHDC dan Ketua Tim Peneliti, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menegaskan, studi berbasis pengabdian masyarakat ini menggunakan desain potong lintang pada siswa berusia 9–14 tahun. Pemeriksaan mencakup penglihatan, penilaian asupan gizi, serta skrining kesehatan jiwa dan perilaku.
Pemeriksaan refraksi menemukan 303 siswa, atau sekitar 30 persen peserta, mengalami gangguan refraksi yang memerlukan tindak lanjut koreksi penglihatan. Analisis studi menunjukkan kelompok dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi memiliki odds fungsi kognitif harian kurang baik sekitar 3,1 kali dibandingkan kelompok tidak berisiko hingga berisiko rendah.
Dr. Ray Wagiu Basrowi menjelaskan bahwa keluhan belajar perlu dibaca secara lebih menyeluruh agar anak mendapatkan bantuan yang sesuai. “Anak yang sulit fokus perlu diperiksa, bukan buru-buru dicap malas. Kesulitan melihat materi pelajaran atau kecemasan yang tidak tertangani dapat berkaitan dengan kesulitan belajar sehari-hari. Temuan ini mengajak orang tua dan guru melihat kebutuhan kesehatan di balik perilaku anak di kelas,” ujar Dr. Ray di Jakarta, Senin (19/10/2026).
IHDC mendorong skrining penglihatan di sekolah yang terhubung dengan pemeriksaan refraksi, pemberian kacamata sesuai kebutuhan, dan pemantauan penggunaannya. Meski terlihat sederhana, pemberian kacamata bagi anak-anak yang membutuhkan dinilai mampu meningkatkan kemampuan kognisi anak-anak.
Prof. Nila F. Moeloek, Pendiri dan Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI 2014-2019, menekankan, “Indonesia Emas 2045 dimulai dari anak-anak yang duduk di bangku sekolah hari ini. Kita perlu memastikan mereka dapat melihat dengan jelas, belajar dengan tenang, dan memiliki keyakinan untuk meraih masa depan. Kesehatan anak harus menjadi bagian dari agenda pendidikan dan pembangunan bangsa."