Kemampuan tubuh mengubah fruktosa menjadi lemak, lanjut Prof. Antonius, pada awalnya merupakan bagian dari mekanisme adaptasi manusia terhadap kondisi ketika sumber pangan terbatas.
Pada masa lalu, buah-buahan yang kaya gula tersedia secara musiman sehingga kemampuan menyimpan energi dalam bentuk lemak membantu tubuh menghadapi periode ketika makanan sulit diperoleh.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan kehidupan modern. Fruktosa kini dapat diperoleh dengan mudah dari berbagai jenis makanan dan minuman, sehingga konsumsinya dapat terjadi lebih sering dan dalam jumlah lebih besar.
“Dengan kondisi manusia sekarang ada banyak sumber fruktosa di mana-mana. Kalau tidak mengonsumsinya dengan lebih bijaksana, yang tadinya untuk survival malah bisa menyebabkan penyakit,” katanya.
Karena itu, Prof. Antonius mengingatkan masyarakat agar tidak menghindari buah, tetapi tetap memperhatikan jumlah dan pola konsumsi secara keseluruhan.
Konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan perlu dibatasi untuk membantu menjaga kesehatan dan menurunkan risiko berbagai gangguan metabolisme.
Dengan demikian, persoalan bukan semata-mata pada keberadaan fruktosa dalam buah, melainkan pada jumlah dan sumber fruktosa yang dikonsumsi. Pola makan yang seimbang tetap penting agar manfaat nutrisi dari buah dapat diperoleh tanpa berlebihan dalam asupan gula.
Baca Juga: 5 Buah untuk Kesehatan Kulit, Bantu Dukung Produksi Kolagen Secara Alami