Berbeda dengan Glengoyne yang menonjolkan proses distilasi lambat, Tamdhu membangun identitasnya melalui dedikasi penuh terhadap penggunaan Oloroso sherry cask.
Distillery yang berdiri pada 1897 ini mematangkan seluruh whiskynya secara eksklusif dalam cask tersebut sejak awal hingga akhir proses.
"Itulah yang membuat Tamdhu sangat unik. Kami mematangkan whisky sepenuhnya di dalam Oloroso sherry cask dari awal hingga akhir. Ini merupakan bentuk dedikasi kami terhadap gaya whisky yang ingin kami hasilkan," ujar Gordon.
Pendekatan ini tergolong langka dalam industri Scotch whisky karena biaya Oloroso sherry cask jauh lebih tinggi dibandingkan bourbon cask yang umum digunakan.
"Harga sherry cask bisa mencapai sekitar sepuluh kali lebih mahal dibandingkan bourbon cask standar. Ini merupakan jenis cask yang sangat mahal," ungkapnya.
Meski membutuhkan investasi yang jauh lebih besar, Ian Macleod Distillers tetap mempertahankan strategi tersebut karena percaya bahwa Oloroso sherry cask mampu menghasilkan karakter whisky yang lebih kaya, kompleks, dan berlapis.
"Ketika sebuah whisky dimatangkan sepenuhnya di dalam Oloroso sherry cask, Anda sedang melakukan sesuatu yang sangat berbeda. Kami percaya cara ini menghasilkan whisky terbaik yang bisa kami ciptakan," katanya.
Karakter khas Tamdhu semakin diperkaya melalui penggunaan dua jenis kayu utama dari Spanyol, yakni European oak dan American oak.
Menurut Gordon, masing-masing kayu memberikan pengaruh yang berbeda terhadap warna maupun profil rasa whisky.
"European oak menghasilkan warna yang lebih gelap dan karakter buah yang lebih kaya, sementara American oak menghadirkan nuansa vanila dan karakter yang lebih ringan," jelasnya.

Perbedaan tersebut dapat ditemukan pada ekspresi Tamdhu yang akan dipasarkan di Indonesia. Tamdhu 12 Years Old menampilkan karakter yang lebih ringan berkat dominasi pengaruh American oak.
Pada Tamdhu 15 Years Old, kontribusi European oak mulai meningkat sehingga menghadirkan profil rasa yang lebih kaya. Sementara Tamdhu 18 Years Old menunjukkan dominasi European oak yang menghasilkan warna lebih gelap serta kompleksitas rasa yang lebih mendalam.
Menariknya, meskipun kapasitas produksi Tamdhu lebih besar dibandingkan Glengoyne, hanya sebagian kecil hasil produksinya yang digunakan untuk lini single malt Tamdhu.
"Sekitar 10 persen dari total produksi kami yang benar-benar digunakan untuk Tamdhu single malt yang dimatangkan dalam sherry cask," ungkap Gordon.
Bagi Ian Macleod Distillers, lanjut Gordon, keputusan tersebut mencerminkan komitmen untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk, bahkan jika harus mengorbankan volume produksi yang lebih besar.
Meski bukan merek dengan volume produksi terbesar di dunia, Gordon menilai reputasi Glengoyne dan Tamdhu dibangun melalui konsistensi kualitas yang telah diakui industri global.
"Dua produk ini sangat dihormati di industri whisky karena kualitas yang berhasil mereka hasilkan," tutupnya.