Di tengah meningkatnya apresiasi konsumen terhadap single malt Scotch whisky, tidak hanya kualitas rasa yang menjadi perhatian, tetapi juga cerita, filosofi, dan proses panjang di balik setiap tetes whisky yang dihasilkan.

Hal inilah yang menjadi fondasi dua merek asal Skotlandia, Glengoyne dan Tamdhu, yang resmi melakukan debut di Indonesia.

Dalam peluncuran kedua brand tersebut, Gordon Dundas, Brand Development and Advocacy Director Ian Macleod Distillers sekaligus salah satu brand ambassador global paling berpengaruh di industri Scotch whisky, mengungkap perjalanan panjang perusahaan keluarga yang menaungi keduanya.

"Kami adalah perusahaan whisky keluarga generasi keempat. Kami telah berada di industri whisky sejak tahun 1933," terang Gordon,saat acara ‘Unveiling the Cask' bersama Glengoyne dan Tamdhu’, di Cohiba Atmosphere, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurut Gordon, sebelum memiliki fasilitas produksi sendiri, Ian Macleod Distillers telah menjalankan hampir seluruh aspek bisnis whisky, mulai dari pematangan, blending, hingga distribusi dan penjualan.

"Sebelum memiliki distillery sendiri, kami sudah melakukan hampir semua hal di industri whisky. Kami mematangkan whisky, menjualnya, dan melakukan blending, tetapi kami belum pernah memproduksinya sendiri hingga akhirnya membeli Glengoyne pada tahun 2003," jelasnya.

Dipaparkan Gordon, akuisisi Glengoyne menjadi titik penting transformasi perusahaan dari pelaku bisnis whisky menjadi produsen.

Langkah tersebut kemudian diikuti dengan pembelian Tamdhu Distillery pada 2010. Portofolio Ian Macleod Distillers terus berkembang melalui pembukaan kembali Rosebank Distillery pada 2024 serta pembangunan distillery baru di India yang mulai beroperasi pada 2023.

Meski ekspansi terus dilakukan, Gordon menegaskan bahwa fokus utama perusahaan tetap berada pada kualitas, bukan produksi dalam skala besar.

Filosofi tersebut tercermin jelas pada karakter Glengoyne dan Tamdhu yang dikembangkan dengan pendekatan berbeda, namun sama-sama mengedepankan tradisi, kesabaran, dan craftsmanship.

Glengoyne yang didirikan pada 1833 dikenal sebagai salah satu distillery paling elegan di kawasan Highland, Skotlandia.

Reputasi tersebut dibangun melalui proses distilasi yang sangat lambat, menghasilkan whisky dengan karakter halus, seimbang, dan kompleks. Lapisan rasa buah, madu, rempah lembut, serta sentuhan oak berkembang perlahan dalam setiap tegukan.

Dikatakan Gordon, salah satu rahasia karakter buah khas Glengoyne terletak pada proses distilasi keduanya yang dirancang untuk memaksimalkan kontak cairan dengan tembaga.

"Kami membagi proses distilasi kedua ke dalam dua still sehingga kontak dengan tembaga menjadi lebih banyak. Semakin banyak kontak dengan tembaga, semakin kuat karakter buah yang dihasilkan. Itulah yang kami cari," kata Gordon.

Selain dikenal melalui proses distilasinya yang lambat, Glengoyne juga mempertahankan komitmen kuat terhadap keaslian produk. Seluruh whisky yang diproduksi menggunakan warna alami tanpa tambahan pewarna.

"Salah satu hal penting yang perlu diketahui tentang Glengoyne adalah seluruh whisky kami selalu menggunakan warna alami, seratus persen warna alami," tegasnya.

Kemudian, warna yang muncul pada whisky Glengoyne sepenuhnya berasal dari proses pematangan di dalam cask. Beragam jenis kayu, mulai dari Spanish oak, American oak hingga refill cask, memberikan kontribusi berbeda terhadap warna maupun karakter rasa yang berkembang seiring waktu.

Menurut Gordon, perubahan warna paling signifikan umumnya terjadi dalam 10 hingga 12 tahun pertama proses maturasi.

Komitmen terhadap kualitas juga dibarengi dengan perhatian terhadap keberlanjutan. Glengoyne menggunakan material kemasan yang dapat didaur ulang sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan.

Baca Juga: Road to Whisky Live Jakarta 2026 Resmi Dimulai: Evolusi dari Pameran Whisky ke Ajang Multi-Spirits