Menurut Ferry, gerakan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengumpulkan dana, tetapi juga menjadi upaya menunjukkan bahwa masyarakat dapat mengambil peran dalam menciptakan sumber pendanaan berkelanjutan bagi mereka yang berada di garis depan menjaga hutan.
“Mari kita sampaikan pesan secara jelas ke seluruh penjuru dunia untuk pertama kalinya, kekuatan kolektif masyarakat bisa menjadi sumber pendanaan permanen bagi orang-orang yang setiap hari berada di garis depan menjaga hutan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ferry menjelaskan, keberadaan hutan memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan lingkungan sekaligus kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Ketika hutan tetap terjaga, karbon dapat terus tersimpan, lahan gambut tetap basah, habitat satwa terlindungi, serta risiko kebakaran dan kerusakan lingkungan dapat ditekan.
“Karena selama hutannya tetap berdiri, karbon tetap tersimpan, gambut tetap basah, habitat satwa tetap ada, risiko kebakaran bisa ditekan, sumber air tetap terjaga, maka masyarakat di sekitarnya tetap punya ruang untuk hidup,” ujar Ferry.
Karena itu, Ferry menegaskan bahwa upaya tersebut tidak dapat dilakukan seorang diri. Ia pun mengajak masyarakat untuk berkontribusi dan menjadikan patungan sebagai bentuk keterlibatan bersama dalam menjaga hutan dan menciptakan masa depan yang lebih baik.
“Untuk menjalankan ini, kita gak bisa sendiri, gue gak bisa sendiri, kita gak bisa sendiri, kita butuh bantuan teman-teman semua. Untuk itu, mari bersama-sama kita lakukan demi kehidupan yang lebih baik untuk hari yang akan datang. Mari patungan untuk hutan,” pungkasnya.
Baca Juga: Ferry Irwandi: Indonesia Tidak dalam Keadaan Baik-baik Saja, Kalimantan dan Sumatra Disorot