Promosi jabatan selama ini kerap dipandang sebagai salah satu tanda keberhasilan seseorang dalam bekerja. Kenaikan posisi identik dengan bertambahnya tanggung jawab, pengakuan atas kinerja, sekaligus peluang untuk mengembangkan karier. Namun, pandangan tersebut mulai mengalami perubahan, terutama di kalangan generasi muda.
Bagi sebagian generasi Z atau Gen Z, kenaikan jabatan tidak selalu menjadi prioritas utama apabila harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, hingga kesempatan untuk mengembangkan diri. Fenomena Gen Z yang memilih menolak promosi demi mempertahankan work-life balance pun perlu dilihat secara lebih utuh.
Rahmi Damayanti, MSi, Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, mengatakan, keputusan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Gen Z tidak ambisius atau tidak memiliki keinginan untuk berkembang.
“Yang terjadi sebenarnya adalah adanya pergeseran orientasi mengenai makna keberhasilan dalam bekerja. Bagi sebagian gen Z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab, atau posisi struktural, tetapi juga dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri,” tutur Rahmi, dikutip dari laman IPB University, Rabu (9/9/2026).
Dari perspektif ilmu keluarga, Rahmi menjelaskan bahwa pekerjaan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan individu dan keluarga.
Ketika tuntutan pekerjaan semakin besar, sementara waktu dan energi yang tersedia untuk keluarga maupun kehidupan personal semakin berkurang, seseorang dapat mempertimbangkan kembali pilihan karier yang akan diambil.
“Karena itu, menurut saya, keputusan menolak promosi dapat menjadi bentuk prioritas terhadap kualitas hidup, bukan semata-mata menunjukkan keengganan untuk menerima tanggung jawab atau berkembang dalam karier. Apalagi gen Z memasuki dunia kerja dalam konteks perubahan besar: digitalisasi, tuntutan kerja yang semakin cepat, fleksibilitas kerja, serta meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesehatan dan kesejahteraan,” tambahnya.
Meski demikian, Rahmi mengingatkan agar fenomena ini tidak digeneralisasi kepada seluruh Gen Z. Banyak anak muda dari generasi tersebut tetap memiliki aspirasi untuk memimpin, tetapi menginginkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah Gen Z bersedia menerima promosi atau menduduki posisi struktural. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada bagaimana organisasi dapat mendesain pekerjaan dan posisi kepemimpinan yang lebih sehat serta berkelanjutan.
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pekerjaan ramah keluarga atau family-friendly workplace. Konsep ini merujuk pada sistem, kebijakan, dan lingkungan kerja yang memungkinkan seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier, sekaligus menjalankan fungsi serta tanggung jawabnya terhadap keluarga.
“Hal tersebut dapat diwujudkan melalui fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang sehat, dukungan terhadap kebutuhan keluarga, cuti, dan waktu kerja yang lebih adaptif, serta budaya organisasi yang tidak menjadikan bekerja berlebihan sebagai ukuran loyalitas,” imbuhnya.
Baca Juga: Kenapa Gen Z Lebih Suka Texting daripada Telepon? Ini Alasannya
Menurut Rahmi, gagasan mengenai pekerjaan ramah keluarga telah lama diinisiasi dan terus diadvokasikan oleh Prof Euis Sunarti, Guru Besar IPB University di bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga. Pendekatan tersebut menempatkan keluarga sebagai bagian penting yang perlu diperhatikan dalam kebijakan maupun praktik dunia kerja.
Pentingnya pendekatan ini juga diperkuat oleh hasil penelitian Rahmi bersama Prof Euis Sunarti dan Dr Istiqlaliyah Muflikhati mengenai family-friendly policies. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap kebijakan ramah keluarga berperan dalam meningkatkan keseimbangan kerja-keluarga, keberfungsian keluarga, dan kesejahteraan subjektif keluarga.
“Pekerjaan ramah keluarga bukan berarti mengurangi produktivitas atau tuntutan profesional. Justru, pendekatan ini mendorong terciptanya sistem kerja yang memungkinkan seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier tanpa harus mengabaikan fungsi dan tanggung jawabnya dalam keluarga,” jelas Rahmi.
Rahmi juga menilai, dunia kerja perlu menyediakan jalur karier yang lebih beragam. Karier tidak harus selalu diarahkan menuju posisi manajerial atau struktural. Jalur keahlian profesional maupun individual contributor dapat menjadi alternatif bagi pekerja yang ingin terus berkembang tanpa harus mengambil peran manajerial.
Sementara itu, regenerasi kepemimpinan tetap dapat dipersiapkan secara bertahap melalui mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, serta pemberian pengalaman memimpin secara progresif.
“Solusi krisis kepemimpinan bukan dengan menyalahkan gen Z karena tidak mau naik jabatan, tetapi dengan membangun sistem kerja yang membuat kepemimpinan tetap kompatibel dengan kehidupan keluarga dan kualitas hidup,” paparnya.
Rahmi kemudian mengatakan, fenomena Gen Z yang mempertimbangkan kembali tawaran promosi dapat menjadi momentum bagi dunia kerja untuk mendefinisikan kembali arti keberhasilan secara lebih multidimensional.
Karier tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan, tetapi keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, waktu personal, dan kesejahteraan juga tidak dapat dipisahkan dari kualitas hidup seseorang.
“Bagi gen Z, work-life balance juga perlu dimaknai secara tepat. Keseimbangan bukan berarti mengurangi tanggung jawab atau membatasi pengembangan diri, tetapi mampu mengelola pekerjaan dan kehidupan secara sehat, tetap bertanggung jawab, dan terus bertumbuh,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan orientasi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih adaptif terhadap kebutuhan generasi muda. Kepemimpinan tidak harus diposisikan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kehidupan personal dan keluarga.
“Yang perlu kita bangun bukan generasi muda yang ‘dipaksa mengejar jabatan’, tetapi generasi muda yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk memimpin karena mereka melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sebagai pengorbanan terhadap kehidupan mereka,” pungkasnya.
Baca Juga: Kenapa Gen Z Tak Ambil Pusing Ketika Melakukan Kesalahan?