Ibubunda Febiola Purba, Elvinus Lusiana Sitanggang tak kuasa menahan amarahnya setelah berbagai upaya yang dilakukan keluarga untuk menyembuhkan putri terkasihnya seolah menemui jalan buntu. 

Febiola Purba salah satu siswa berprestasi di sebuah SMA Swasta Berastagi, Karo, Sumatera Utara itu kini terbaring lunglai di rumah, dia divonis kehilangan 70 persen ingatannya setelah keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pertengahan Agustus 2026 lalu.

Pihak keluarga telah membawanya bolak balik sejumlah rumah sakit namun kondisi gadis belia itu tak mengalami perubahan, bahkan sekarang ini ia bertingkah seperti anak usia tiga tahun setelah tragedi keracunan massal itu. 

Baca Juga: Ketika MBG Meminta Tumbal: Anak Berprestasi Kehilangan 70 Persen Ingatan Setelah Keracunan

“Anak saya lah yang kena ginjalnya. Di mana hati nurani kalian? Terutama Kepala SPPG, bapak punya anak atau tidak? Ini anakku sekarang lemah di rumah. Ini tentang nyawa. Nyawa. Anak saya sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit,”  kata Elvinus dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dugaan keracunan MBG di Kantor DPRD Karo dilansir Olenka.id Rabu (9/9/2026). 

Mirisnya lagi kata Elvinus pengelola dapur MBG sampai sekarang sama sekali tidak memberi penjelasan kepada pihak keluarga, mereka bahkan tidak mengetahui secara persis racun atau bakteri apa yang menggerogoti Febiola. Elvinus sangat menyayangkan hal itu. 

“Sayalah yang viral di media sosial itu, yang menanyakan racun apa yang terdeteksi di ikan itu. Sampai sekarang kami tidak tahu, kalian bungkam semua. Bungkam,” ucapnya.

“Itu MBG bukan uang pribadi kalian kan. Uang masyarakat kan. Uang kami juga. Tega banget ya, meracuni anak-anak. Sekarang kondisinya melihat keramaian pun takut. Terutama pihak SPPG, sampai mana pertanggungjawaban bapak,” tambahnya. 

Kendati pihak pengelola MBG bungkam namun dari hasil pemeriksaan medis, Febiola diketahui terjangkit dua bakteri ganas yang setelah mengonsumsi MBG. 

“Tes urine anak saya, positif dua ada bakteri di dalam urine. Kenapa? Itu racun. Penyebab kedua, terlalu banyak rumah sakit menyuntikkan antibiotik,” pungkasnya.

Kesulitan Biaya Pengobatan

Febiola tidak datang dari keluarga yang serba ada, kehidupan keluarganya sederhana sementara itu pengobatan Febiola butuh ongkos besar, namun pihak keluarga mengupayakan segala cara agar remaja 16 tahun  kembali seperti sediakala. 

"Kami sejujurnya agak kesulitan dengan biaya, karena tidak mungkin hanya makan saja. Kadang-kadang harus membeli kebutuhan anak kami," kata Icuk Sugiarto Purba, ayah Febiola.

Pemulihan Febiola tidak sebentar, untuk mengembalikan seluruh memorinya  butuh waktu setahun, dimana korban harus dikontrol rutin setiap pekan, jelas ini sangat memberatkan pihak keluarga yang terus menanggung beban ongkos rumah sakit dan biaya lainnya. 

"Anak saya menurut dokter itu perawatannya tidak sebentar. Dokter bilang harus dirawat selama setahun penuh, setiap seminggu sekali," ujarnya. 

Baca Juga: Anggaran Penanggulangan Bencana Jadi Omongan Gegara Dinilai Setara Ongkos MBG Sehari, Loyalis Jokowi Langsung Kasih Paham: Sini Om Ajarin!

Selain terapi dan kontrol rutin, Febiola juga harus mendapatkan asupan makanan khusus, bahkan ia diwajibkan mengonsumsi susu khusus yang harganya jelas tidak murah untuk ukuran keluarga sederhana. Ucuk mengatakan susu khusus itu seharga Rp180 ribu ia harus membelinya dua kali dalam semingu. Untuk memenuhi kebutuhan itu sang ayah harus menguras tabungan keluarga. 

"Kalau tidak ada pemasukan, tapi pengeluaran terus sampai kapan kalau begini terus. Saya tidak sanggup kalau melihat kondisi anak saya itu," ucapnya. 

Ia berharap, para penyelenggara MBG tidak lepas tangan atas kejadian yang dialami putrinya. Setidaknya mereka ikut meringankan beban pengobatan Febiola. 

"Pesan saya, semoga pihak-pihak tersebut bisa bertanggung jawab atas masalah ini. Agar memberikan perawatan dan pengobatan terbaik kepada anak saya, dan mengarahkan kepada dokter-dokter yang terbaik," katanya lagi. 

"Ya, harapan saya sebetulnya program MBG itu sangat bagus. Tapi karena sudah ada korban-korban seperti ini, anak-anak SMA, SMP, ini tidak diinginkan mereka menjadi korbannya. Jadi itu sudah kelalaian," tambahnya memungkasi.