Di tengah gencarnya kampanye pemberdayaan perempuan, satu pengalaman biologis yang sangat mendasar, yakni menstruasi masih kerap dipandang sebelah mata. Keluhan fisik maupun emosional yang dirasakan perempuan sering kali dijawab dengan respons yang terdengar “standar”, bahkan cenderung meremehkan.
Kalimat seperti “istirahat saja” atau “minum air hangat nanti juga hilang sakitnya" mungkin terdengar sederhana, tetapi tidak selalu menjawab kebutuhan yang sebenarnya.
Alih-alih mendapatkan pemahaman, banyak perempuan justru merasa tidak didengar. Respons yang bersifat otomatis ini, meski dilandasi niat baik, sering kali justru memperparah kondisi emosional. Dalam banyak kasus, hal paling mendasar seperti menanyakan apa yang benar-benar dibutuhkan justru terlewatkan.
Baca Juga: Unicharm Edukasi Remaja Karawang: Menstruasi Bukan Hambatan Meraih Mimpi
Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara niat baik dan bentuk dukungan yang benar-benar dirasakan. Kebiasaan memberikan saran instan telah menjadi respons refleks dalam masyarakat. Sayangnya, pola ini cenderung menutup ruang dialog yang lebih personal dan empatik.
Menurut Susilowati, Vice President Marketing Kao Indonesia, respons yang bersifat “template” sering kali membuat perhatian terasa sekadar formalitas. Ia menilai bahwa banyak orang ingin membantu, tetapi tidak selalu memahami bagaimana cara memberikan dukungan yang tepat.
“Niatnya benar karena ingin memberikan respon, tapi karena respon itu otomatis atau template, kesannya jadi rutinitas dan basa-basi saja,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kesadaran ini mendorong Laurier menghadirkan kampanye yang mengajak masyarakat mengubah cara merespons perempuan saat menstruasi. Bertepatan dengan momentum Hari Kartini, 21 April, aurier resmi meluncurkan kampanye “Comfort, Made Together” disertai re-branding baru mereka.
Baca Juga: Dokter Ingatkan Pentingnya Jaga Kebersihan Selama Menstruasi, Intip Tipsnya!
Melalui gerakan ini, Laurier mengajak masyarakat untuk memahami kembali cara mereka berinteraksi dengan perempuan yang sedang menstruasi, yakni dengan mengganti pola template care yang pasif menjadi responsif fungsional nyata lewat gerakan HADIR (paHAmi, DampIngi, dan Respons).
Perspektif serupa disampaikan oleh Brand Ambassador Laurier, Maudy Ayunda. Ia menekankan pentingnya komunikasi dalam membangun empati. Menurutnya, menstruasi bukan hanya soal kondisi fisik, tetapi juga melibatkan perubahan hormon dan emosi yang kompleks.
Sering kali, lingkungan sekitar merasa sudah tahu apa yang terbaik, tanpa benar-benar bertanya. Padahal, pertanyaan sederhana seperti “kamu butuh apa?” atau “aku bisa bantu apa?” justru menjadi bentuk perhatian yang lebih bermakna.
Baca Juga: Cara Maudy Ayunda Jaga Kesehatan Tubuh, Pikiran, dan Emotional: Jadikan Olahraga Sebagai Kebutuhan
“Kekuatan bertanya itu adalah bentuk nyata dari empati,” ungkap Maudy.
Dari sisi medis, perubahan emosi selama menstruasi bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. dr. Elvine Gunawan menjelaskan bahwa fluktuasi hormon seperti estrogen dan progesteron memengaruhi zat kimia otak, termasuk serotonin dan dopamin.
Perubahan ini dapat meningkatkan sensitivitas terhadap lingkungan, termasuk ekspresi wajah dan nada bicara orang lain. Artinya, respons yang terdengar biasa saja bisa terasa berbeda bagi perempuan yang sedang menstruasi.
“Ini adalah proses biologis yang nyata, bukan sesuatu yang harus distigma atau dianggap berlebihan,” jelas dr. Elvine.
Baca Juga: Tiba-tiba Moodswing, Ini 13 Gejala Menstruasi yang Perlu Diketahui!
Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk laki-laki, dalam membantu menjaga stabilitas emosional perempuan selama periode tersebut.
Melalui kampanye yang dihadirkan Laurier, diperkenalkan pendekatan sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, mendampingi tanpa asumsi, serta memberikan respons berdasarkan kebutuhan nyata.
Langkah ini menunjukkan bahwa empati tidak selalu harus rumit. Hal paling mendasar justru terletak pada kehadiran yang tulus dan kemauan untuk memahami, bukan sekadar memberi saran.
Alih-alih mengandalkan respons instan, masyarakat perlu mulai membiasakan diri untuk hadir secara utuh, baik secara emosional maupun praktis. Dengan begitu, pengalaman menstruasi tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dihadapi sendirian.
Kesadaran ini juga menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih luas, di mana isu-isu biologis perempuan tidak lagi dianggap tabu atau remeh. Ketika empati menjadi kebiasaan, ruang yang lebih aman dan suportif bagi perempuan pun dapat terbangun secara perlahan.