Emas Dinilai Menarik di Tengah Dinamika Pasar
Harnugama juga melihat terdapat sejumlah karakteristik emas yang menarik untuk dipahami lebih jauh oleh investor. Salah satunya adalah ketahanan emas secara historis ketika pasar menghadapi periode tekanan.
“Terus terang saya melihat banyak hal-hal menarik dari emas. Mungkin nanti Bapak-Ibu Nana Soeber akan menjelaskan lebih detail. Cuma ada beberapa hal yang saya tertarik, itu ternyata secara historis emas itu lebih resistan terhadap krisis,” ujarnya.
Selain ketahanan terhadap krisis, Harnugama menyoroti karakteristik volatilitas harga emas jika dibandingkan dengan pasar saham.
“Kemudian ternyata emas itu volatilitas, volatility harga emas itu ternyata lebih rendah daripada IHSG,” lanjutnya.
Meski demikian, karakteristik historis tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko investasi. Harga emas tetap dapat mengalami fluktuasi sehingga investor perlu memahami instrumen dan menyesuaikannya dengan tujuan serta profil risikonya.
Selain membahas karakteristik emas, Harnugama menekankan pentingnya transparansi dalam memperkenalkan ETF emas kepada masyarakat. Salah satu aspek yang menurutnya menarik adalah mekanisme harga beli dan jual ETF.
Menurut Harnugama, informasi semacam itu perlu terus dibangun dan disampaikan secara transparan karena ETF emas masih tergolong baru di pasar modal Indonesia.
“Hal-hal ini transparency ini penting untuk terus kita bangun karena ETF Gold ini adalah barang baru buat pasar modal kita,” tegas Harnugama.
Dalam konteks tersebut, media dinilai memiliki peran strategis untuk membantu memperluas pemahaman masyarakat mengenai instrumen investasi emas berbasis ETF.
Sementara itu, salah satu aspek yang turut menjadi pembahasan dalam Gold 360° adalah infrastruktur yang menopang emas sebagai underlying ETF.
Ekosistem tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari Manajer Investasi, Dealer Participant, hingga gold provider dan custody. Peran masing-masing pihak menjadi bagian dari mekanisme yang memastikan aset emas fisik tersedia, tersimpan dan terlindungi dalam sistem yang terkontrol, serta memiliki catatan kepemilikan yang dapat direkonsiliasi.
Dengan demikian, pemahaman mengenai ETF emas tidak hanya mencakup bagaimana unitnya diperdagangkan di bursa, tetapi juga bagaimana emas fisik yang menjadi underlying dikelola dan dicatat.
Bagi Syailendra Capital, pengembangan produk investasi perlu berjalan beriringan dengan edukasi. Fajar menilai pemahaman yang baik menjadi fondasi agar masyarakat dapat mengambil keputusan investasi secara lebih terinformasi.
“Bagi kami, edukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari inovasi investasi. Kehadiran produk baru perlu diiringi dengan pemahaman yang lebih baik agar masyarakat dapat mengambil keputusan investasi secara lebih terinformasi,” kata Fajar.
Ia menambahkan, edukasi mengenai emas akan terus diperluas, tidak hanya dari sisi kondisi pasar, tetapi juga mencakup ekosistem yang menopang instrumen investasi berbasis emas.
“Ke depan, kami akan terus mengedukasi masyarakat untuk membuka perspektif yang lebih luas mengenai emas, mulai dari kondisi pasarnya hingga bagaimana ekosistem di balik instrumen investasi berbasis emas bekerja,” tutupnya.
Senada dengan itu, Harnugama berharap, pendekatan empat perspektif dalam Gold 360° dapat memberikan gambaran yang lebih utuh kepada media dan masyarakat mengenai emas, terutama ETF emas.
“Harapan kami melalui empat perspektif ini rekan-rekan media akan mendapatkan gambaran yang lebih komplit, yang lebih detail mengenai emas, khususnya ETF emas,” tutup Harnugama.
Baca Juga: ETF Pilihan Warren Buffett dan Strategi Investasi Sederhana untuk Investor Pemula