Seseorang yang memahami psikologi, misalnya, dapat melihat sebuah persoalan dari sisi perilaku manusia.
Pengetahuan tentang ekonomi dapat membantu menilai kelayakan sebuah ide secara finansial, sementara pemahaman sejarah dan budaya dapat memberikan konteks yang mungkin tidak terlihat jika seseorang hanya melihat persoalan dari sudut pandang teknologi.
Karena itu, gagasan Musk bukan berarti keahlian khusus akan kehilangan relevansinya. Bidang seperti teknik, sains, kedokteran, desain, dan berbagai profesi lainnya tetap membutuhkan pengetahuan mendalam.
Namun, ketika AI semakin mampu mengambil alih bagian pekerjaan yang bersifat teknis dan repetitif, nilai tambah manusia dapat semakin bergeser pada kemampuan berpikir, membuat penilaian, memecahkan masalah, dan melihat persoalan dari berbagai perspektif.
Misalnya, seseorang yang hanya memahami teknologi AI mungkin mampu membuat sebuah sistem yang canggih secara teknis. Namun, orang yang juga memahami perilaku manusia dapat mengajukan pertanyaan yang berbeda, apakah sistem tersebut benar-benar dibutuhkan?
Sementara, seseorang dengan pengetahuan ekonomi dapat mempertanyakan apakah solusi tersebut layak secara bisnis. Mereka yang memahami sejarah bahkan mungkin menemukan bahwa persoalan yang dianggap baru sebenarnya pernah muncul dalam bentuk berbeda di masa lalu.
Kemampuan menghubungkan berbagai pengetahuan inilah yang menjadi semakin relevan ketika teknologi mengambil alih lebih banyak tugas eksekusi.
Baca Juga: 5 Keterampilan Kewirausahaan yang Bisa Dipelajari dari Elon Musk untuk Membangun Karier Sukses