Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu pusat manufaktur garmen utama bagi pasar BRICS+ dan Asia. Potensi ini disampaikan oleh Rizal Tanzil Rakhman, yang membidangi hubungan pemerintah dan keberlanjutan di PT Pan Brothers Tbk, setelah berpartisipasi dalam BRICS+ Fashion Summit di Moskow.

Indonesia saat ini telah masuk dalam jajaran 10 besar negara pengekspor garmen jadi di dunia. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian yang mengacu pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pakaian jadi Indonesia mencapai sekitar US$7,27 miliar pada 2025, meningkat dari US$7,08 miliar pada 2024. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sekitar 2,7% per tahun.

Baca Juga: UKM Binaan Indonesia Eximbank Hasilkan Transaksi 20 Ton Pala Ekspor ke Tiongkok

Amerika Serikat masih menjadi salah satu pasar utama ekspor pakaian jadi Indonesia, bersama Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman. Di sisi lain, penguatan hubungan perdagangan dengan negara-negara BRICS+ yang memiliki pertumbuhan ekonomi pesat membuka peluang baru bagi perluasan pasar ekspor Indonesia.

“Indonesia memiliki tenaga kerja manufaktur yang berpengalaman, rantai pasok berorientasi ekspor yang telah terbentuk, kemampuan produksi yang kompetitif, serta komitmen yang semakin kuat terhadap manufaktur berkelanjutan. Untuk memaksimalkan potensi ini, Indonesia perlu terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi logistik, memperkuat rantai pasok dari hulu, mempercepat adopsi teknologi, serta menciptakan iklim investasi dan perdagangan yang lebih pasti,” ujar Rizal, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Kemampuan Indonesia dalam mendukung rantai pasok global berskala besar juga tercermin dari pengalaman industri manufaktur garmen nasional. PT Pan Brothers Tbk, yang berdiri sejak 1980, mengoperasikan delapan fasilitas manufaktur di Pulau Jawa dengan lebih dari 22.600 tenaga kerja dan kapasitas produksi tahunan sekitar 111 juta potong pakaian. Perusahaan ini melayani sejumlah merek global, termasuk Adidas, Uniqlo, The North Face, Arc'teryx, dan lululemon, dengan jangkauan ekspor ke Asia, Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai pasar lainnya.

Dalam BRICS+ Fashion Summit, Rizal juga memaparkan langkah perusahaan dalam menggabungkan restrukturisasi keuangan dengan investasi untuk meningkatkan kemampuan operasional. Investasi diprioritaskan pada sejumlah area yang dinilai berdampak langsung terhadap daya saing, antara lain otomatisasi dan digitalisasi, efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan, serta teknologi yang memungkinkan penelusuran asal bahan baku dan penggunaan sumber daya secara lebih efisien. 

“Pelanggan internasional kini semakin mengharapkan pemasok untuk tidak hanya menawarkan kualitas, harga, dan kecepatan produksi yang kompetitif, tetapi juga menunjukkan kemajuan yang terukur dalam pengurangan emisi karbon, penerapan ekonomi sirkular, dan transparansi. Karena itu, teknologi dan keberlanjutan tidak lagi menjadi dua investasi yang terpisah, melainkan semakin menjadi bagian dari strategi yang sama untuk memperkuat daya saing,” jelas Rizal.

Salah satu inisiatif yang dijalankan perusahaan adalah program daur ulang dengan sistem closed-loop, yaitu pemanfaatan kembali sisa kain dari proses pemotongan untuk dibuat menjadi seragam karyawan.

“Program ini mendukung pemanfaatan kembali limbah produksi dan telah menghasilkan seragam daur ulang bagi sekitar 23.000 karyawan. Seragam tersebut diganti setiap satu hingga dua tahun. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana limbah produksi dapat dimanfaatkan kembali dalam skala besar dan bagaimana prinsip ekonomi sirkular bisa diterapkan dalam kegiatan manufaktur sehari-hari,” tambahnya.

Dalam sesi yang sama, sejumlah pelaku industri turut membagikan pandangan mengenai peran teknologi dalam mengubah waktu produksi dan pengiriman, biaya manufaktur, serta cara merek berskala kecil menjalankan bisnis.

Cem Altan, perwakilan International Apparel Federation, menyampaikan bahwa berdasarkan pengalamannya, digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) telah membantu memangkas waktu pengadaan dan pasokan dari enam bulan menjadi satu bulan, bahkan hanya dua minggu dalam sejumlah kasus. Namun, pemanfaatan teknologi lebih lanjut perlu diimbangi dengan pelatihan agar tenaga kerja mampu mengolah data produksi dan menggunakan sistem digital secara efektif.

Sementara itu, Mubashar Naseer Butt, CEO Body Media International asal Pakistan, menyoroti peran AI dalam meningkatkan kualitas produk sekaligus menekan biaya produksi. Menurutnya, efisiensi yang dihasilkan dari penerapan teknologi dapat dimanfaatkan perusahaan untuk meningkatkan upah dan memperbaiki kondisi kerja.

Dari sisi pengembangan produk, Aleksandra Kaloshina, pendiri Solstudio Textile Group asal Rusia, memperkenalkan platform Print-a-Porter. Platform ini menggabungkan pesanan pencetakan kain dalam jumlah kecil menjadi satu kelompok produksi yang dapat diproses menggunakan peralatan industri. Dengan kemampuan memesan kain bermotif khusus mulai dari 50 sentimeter, desainer dapat menguji ide sebelum mengalokasikan investasi lebih besar untuk produksi.