Kripto kini bergerak melampaui perdagangan dan spekulasi menuju kasus penggunaan keuangan yang nyata, ujar Calvin Kizana, CEO Tokocrypto, di sela-sela TOKEN2049 Singapura, Rabu-Kamis (7-8/10). Ia menyebut stablecoin, tokenisasi, konvergensi kripto dan keuangan tradisional (TradFi), serta partisipasi institusional sebagai sinyal yang perlu dicermati Indonesia.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indonesia mencatat 23,21 juta akun perdagangan aset keuangan digital per Agustus 2026. Pada bulan yang sama, nilai transaksi kripto mencapai Rp23,16 triliun, naik 12,9% dari Rp20,52 triliun pada Juli.

Baca Juga: Suku Bunga The Fed Naik, Tokocrypto Ajak Investor Kripto Lebih Paham Manajemen Risiko

“Artinya, fase pertumbuhan berikutnya tidak hanya soal bertambahnya jumlah pengguna, tetapi juga soal memberikan cara yang lebih bermakna dan praktis bagi pengguna untuk berpartisipasi. Bagi Tokocrypto, fokusnya adalah membuat perkembangan global itu relevan dan mudah diakses dalam kerangka regulasi Indonesia," ujar Calvin, dikutip Selasa (13/10/2026).

Calvin menyatakan, kekuatan Indonesia terletak pada skala ritelnya. Adopsi yang kuat di tingkat akar rumput dan potensi pertumbuhannya berbeda dengan pasar yang lebih digerakkan oleh institusi, seperti Singapura.

Ia memperkirakan stablecoin akan lebih dulu menjangkau pengguna di Indonesia karena penggunaannya yang sederhana dan praktis, mulai dari perdagangan dan penyelesaian transaksi hingga memindahkan nilai secara esien.

Aset dunia nyata yang ditokenisasi dapat menyusul seiring berkembangnya regulasi dan infrastruktur. Salah satu contohnya adalah bStocks, sekuritas tertokenisasi di BNB Smart Chain yang didukung saham AS yang disimpan pada kustodian teregulasi.

BStocks memberikan eksposur terhadap saham AS bagi pengguna yang memenuhi syarat melalui teknologi blockchain, dengan perdagangan selama 24 jam, meski tidak memberikan kepemilikan langsung atas saham yang mendasarinya. Adopsi di Indonesia bergantung pada persyaratan regulasi lokal dan kesiapan pasar.

“Prioritas Tokocrypto adalah menyiapkan platform, kemitraan, dan edukasi pengguna agar inovasi-inovasi ini dapat diperkenalkan secara bertanggung jawab ketika pasar siap,” ujarnya.

Calvin juga menekankan peran regulasi dalam pertumbuhan pasar. Ia menilai pendekatan Indonesia yang terstruktur berdampak positif bagi perkembangan pasar jangka panjang.

“Regulasi yang kuat dapat meningkatkan kepercayaan, melindungi pengguna, dan menciptakan aturan yang lebih jelas bagi inovasi. Sebagai platform lokal yang diatur, kami bertanggung jawab menyeimbangkan inovasi dengan kepatuhan, keamanan, dan perlindungan konsumen,” ujarnya.

Memasuki akhir 2026 hingga 2027, Calvin memperkirakan fokus industri akan bergeser “dari berapa banyak orang Indonesia yang memiliki kripto menjadi seberapa aktif dan bermakna mereka menggunakan aset digital.” Ia melihat partisipasi institusional yang lebih kuat, kasus penggunaan yang lebih praktis, dan integrasi yang lebih erat antara kripto dan keuangan tradisional. Peluang ini dapat dimanfaatkan Tokocrypto untuk melangkah melampaui perannya sebagai platform perdagangan menuju peran yang lebih luas dalam ekosistem aset digital Indonesia.

Ia juga mengimbau para investor untuk mengelola risiko dengan cermat dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan hype. “Tetaplah penasaran, terus belajar, dan utamakan keamanan. Tetaplah terbuka terhadap inovasi, tetapi tetap disiplin, karena masa depan kripto harus dibangun di atas inovasi yang memberikan nilai jangka panjang, bukan sekadar euforia pasar jangka pendek,” ujarnya.