Transisi menuju ekonomi hijau dinilai semakin mendesak bagi Indonesia di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan ketidakpastian ekonomi global. Selain menjadi upaya menjaga keberlanjutan lingkungan, transformasi tersebut juga dipandang sebagai peluang untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru dan memperkuat daya saing nasional.

Berbagai lembaga internasional telah menempatkan ekonomi hijau sebagai salah satu arah pembangunan masa depan. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mendefinisikan ekonomi hijau sebagai sistem ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial sekaligus mengurangi risiko lingkungan serta kelangkaan sumber daya alam.

Baca Juga: Dorong Penguatan Ekonomi Hijau, Sandiaga Uno Bidik MUTU

Sementara itu, Bank Dunia mendorong konsep inclusive green growth yang menekankan efisiensi penggunaan sumber daya, rendah emisi, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Dalam konteks Indonesia, urgensi ekonomi hijau semakin terasa seiring besarnya tantangan lingkungan yang dihadapi. Mulai dari banjir, polusi udara, krisis air, kerusakan hutan, hingga cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Di sisi lain, Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam, hutan tropis, potensi energi terbarukan, dan bonus demografi yang dapat menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga: PLN Siap Pasok Listrik Hijau di Sektor Tambang

Ketua Dewan Pembina IKA Unpad Burhanuddin Abdullah menilai biaya mempertahankan model pembangunan yang eksploitatif kini semakin tinggi dibandingkan biaya untuk melakukan transisi menuju ekonomi hijau.

“Ekonomi hijau bukan sebagai beban, tetapi peluang besar menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, lapangan kerja baru, sekaligus menjaga keberlanjutan bangsa,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Olenka pada Senin (08/06/2026). 

Menurut Burhanuddin, tuntutan global terhadap praktik industri yang rendah karbon dan ramah lingkungan juga terus meningkat. Negara yang mampu beradaptasi dengan tren tersebut dinilai akan memiliki posisi lebih kuat dalam persaingan ekonomi dunia.

Baca Juga: Kadin Nilai DSI Dapat Perkuat Ekonomi Nasional

Hal senada disampaikan Ketua Pelaksana Forum Ekonomi Hijau Ferdian Agustiana. Ia menilai pembahasan mengenai keberlanjutan perlu diarahkan pada langkah-langkah yang lebih konkret dan terukur.

“Ekonomi hijau bukan berarti menghentikan pertumbuhan ekonomi. Justru ini tentang bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat berjalan lebih cerdas, lebih efisien, lebih inklusif, dan tidak menciptakan biaya lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Menurut Ferdian, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam ekonomi hijau global melalui pengembangan energi terbarukan, hilirisasi berkelanjutan, industri hijau, dan inovasi teknologi ramah lingkungan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan akan ruang diskusi mengenai isu keberlanjutan, berbagai kalangan mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk mempercepat transformasi ekonomi hijau.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) akan meluncurkan Forum Ekonomi Hijau pada 17 Juni 2026 di Jakarta. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah dialog lintas sektor guna membahas kebijakan, inovasi, dan strategi pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat IKA Unpad Yhodhisman Soratha mengatakan forum tersebut dirancang sebagai ruang diskusi terbuka yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan masa depan pembangunan Indonesia yang lebih berkelanjutan.

Peluncuran Forum Ekonomi Hijau dijadwalkan menghadirkan sejumlah tokoh nasional, akademisi, pengambil kebijakan, pelaku industri, dan komunitas masyarakat sipil untuk membahas implementasi ekonomi hijau di Indonesia.