Penguatan ekonomi berbasis masyarakat adat dan penghormatan terhadap hak ulayat menjadi fondasi utama mewujudkan Papua yang damai, sejahtera, dan mandiri. Hal tersebut disampaikan oleh Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) dalam seminar nasional bertajuk "Membangun Ekonomi dan Budaya Papua Melalui Penguatan Peran Kla/Marga Sebagai Aktor Pembangunan" yang berlangsung di FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (29/7).

Koordinator BP3OKP, Pdt. Alberth Yoku, menegaskan bahwa BP3OKP terus mendorong empat pilar program utama, yaitu Papua Cerdas, Papua Sehat, Papua Produktif, dan Papua Damai. Pihaknya memastikan bahwa pengalokasian dan penggunaan Dana Otonomi Khusus (Otsus) benar-benar memberikan dampak langsung kepada masyarakat lokal.

Baca Juga: Mahasiswa Papua Diimbau Kedepankan Dialog demi Stabilitas dan Kelanjutan Pembangunan

"Pembangunan Papua harus menghormati hak ulayat dan kearifan lokal. Melalui program Papua Produktif, kami melibatkan para pemimpin adat dan kelompok usaha lokal, seperti nelayan dan petani, sebagai mitra strategis dalam mengelola potensi ekonomi daerah," tegas Pdt. Alberth Yoku, dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).

Baca Juga: Dukung Konektivitas Wilayah, Prabowo Resmikan Infrastruktur Jalan di Papua

Semangat kemandirian ekonomi ini mendapat respon positif dari kelompok ekonomi rakyat di lapangan. Dalam diskusi hibrida, peserta dari Pokja Papua Produktif, Kelompok Nelayan KONEPA, serta Kelompok Rumput Laut Ramaidori menyuarakan komitmen mereka untuk memajukan produk unggulan daerah jika didukung oleh ekosistem usaha yang terintegrasi.

Sinergi ini dinilai menjadi titik balik transformasi ekonomi Papua, di mana masyarakat adat tidak hanya menjadi penonton, melainkan pelaku utama dalam arus pertumbuhan ekonomi daerahnya sendiri.