Hai Sawit Indonesia bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB) menggelar Sawit Academy Eps. UB di Aula Lantai 2 Gedung A FTP UB, Malang. Mengusung tema “Sawit di Dalam Kehidupan: Mengajak Generasi Muda Memahami Peran Sawit dalam Keseharian”, kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan dialog akademik untuk memperkuat literasi sawit di kalangan mahasiswa.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Badan Layanan Umum di bawah Kementerian Keuangan RI yang menghimpun dan menyalurkan dana untuk mendukung keberlanjutan, produktivitas, serta daya saing komoditas perkebunan strategis, termasuk kelapa sawit.

Acara dihadiri jajaran pimpinan fakultas, di antaranya Dekan FTP UB Prof. Yusuf Hendrawan yang diwakili Wakil Dekan III Dr. Ir. Mochamad Bagus Hermanto, serta para wakil dekan lainnya. Forum ini juga menghadirkan akademisi lintas bidang dan perwakilan mahasiswa sebagai narasumber.

Baca Juga: Didukung BPDP, Hai Sawit Gelar Sawit Academy di USU: Pertajam Literasi Generasi Muda

Direktur PT Hai Sawit Indonesia, M. Danang Mursyid Rijalul Qowi, menyampaikan bahwa Sawit Academy merupakan bagian dari gerakan literasi yang konsisten dibangun di berbagai perguruan tinggi. Menurutnya, mahasiswa perlu memperoleh ruang diskusi yang objektif dan berbasis data agar mampu memahami industri sawit secara utuh, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga aspek keberlanjutan, inovasi, serta kontribusinya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kampus menjadi mitra strategis dalam menyiapkan generasi muda yang kritis, solutif, dan siap terlibat dalam pembangunan sektor perkebunan nasional,” ujarnya.

Pihak fakultas menyambut positif kolaborasi tersebut. Wakil Dekan III FTP UB, Dr. Mochamad Bagus Hermanto, menilai sinergi antara kampus dan industri penting untuk menghadirkan ruang akademik yang terbuka dan berimbang, sekaligus mendorong kontribusi mahasiswa melalui riset serta inovasi ilmiah.

Dalam sesi bertajuk “Dari Tuduhan Menuju Pemahaman: Meluruskan Isu Sawit melalui Pendekatan Akademik dan Berbasis Data”, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, memaparkan berbagai isu lingkungan yang kerap dilekatkan pada sawit Indonesia, mulai dari tudingan konversi hutan primer hingga anggapan sebagai pemicu utama deforestasi global.

Ia menegaskan bahwa definisi deforestasi harus merujuk pada standar lembaga internasional seperti FAO dan World Bank, yakni perubahan permanen kawasan berhutan menjadi non-hutan akibat aktivitas manusia. Karena itu, analisis terhadap status dan riwayat tutupan lahan sebelum dikonversi menjadi kebun sawit menjadi krusial.

Mengutip kajian Komisi Eropa periode 1990–2008, Prof. Yanto menyebut dari total 239 juta hektare deforestasi global, sekitar 58 juta hektare disebabkan sektor peternakan, 13 juta hektare oleh kedelai, 8 juta hektare oleh jagung, dan sawit sekitar 6 juta hektare atau kurang lebih 2,5 persen.

Baca Juga: Menatap Masa Depan Sawit Indonesia: BPDP Targetkan Peningkatan Produktivitas Perkebunan

“Artinya, kita perlu melihat posisi sawit secara proporsional dalam konteks deforestasi global, berbasis data, bukan sekadar persepsi,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa perubahan fungsi hutan dipengaruhi faktor historis dan kebijakan masa lalu, seperti transmigrasi dan konsesi kehutanan, sehingga penyederhanaan isu dengan hanya menyalahkan sawit tidak mencerminkan kompleksitas tata guna lahan.

Perspektif lain disampaikan Prof. Dr. Ir. Susinggih Wijana dari Departemen Teknologi Industri Pertanian UB melalui materi “Sawit di Mata Kampus: Perspektif Ilmiah & Komparatif.”

Baca Juga: Apresiasi Inovasi UMKM Binaan BPDP, Menkeu Purbaya Dorong Hilirisasi Sawit

Menurutnya, sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati paling efisien dari sisi produktivitas per hektare dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya. “Ini bukan sekadar soal preferensi ekonomi, tetapi efisiensi lahan dan industri,” katanya.

Ia juga mengangkat konsep ekonomi sirkular dalam industri sawit modern. Hampir seluruh bagian tanaman, mulai dari tandan kosong, serat, cangkang, hingga limbah cair, dapat dimanfaatkan kembali menjadi energi, pupuk, maupun bahan baku turunan.

“Limbah bukan lagi beban, tetapi sumber daya yang bisa diolah kembali,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya tata kelola berkelanjutan melalui standar seperti ISPO serta peran kampus dalam mendukung riset dan inovasi.

Sementara itu, Prof. Dr. Teti Estiasih dari FTP UB memaparkan peran produk turunan sawit dalam dunia kesehatan dan kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa minyak sawit memiliki komposisi asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang relatif seimbang serta stabil terhadap oksidasi.

Baca Juga: Perkuat Akses Pendidikan, BPDP Gelar Sosialisasi Program Beasiswa Sawit di Manggarai Barat

Menurutnya, sawit mengandung senyawa bioaktif seperti tokoferol dan tokotrienol (Vitamin E), fitosterol, skualen, hingga koenzim Q10 yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Fraksi tidak tersabunkan dari CPO maupun distilat asam lemak minyak sawit juga menunjukkan potensi dalam membantu penurunan kolesterol dan meningkatkan aktivitas antioksidan berdasarkan sejumlah penelitian.

Ia menegaskan bahwa tantangan Indonesia ke depan bukan hanya mempertahankan posisi sebagai produsen CPO terbesar, tetapi juga mengoptimalkan hilirisasi berbasis riset guna menghasilkan produk pangan fungsional, nutraseutikal, dan aplikasi kesehatan bernilai tambah tinggi.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mahasiswa mengenai keberlanjutan, biodiversitas, hilirisasi, hingga tantangan global industri sawit. Kegiatan ini juga menjadi momentum penandatanganan kerja sama sebagai komitmen penguatan kolaborasi edukasi ke depan.

Baca Juga: Mitos atau Fakta: Benarkah Minyak Sawit Jadi Penyebab Kanker?

Melalui Sawit Academy Eps. UB, Hai Sawit Indonesia bersama dukungan BPDP menegaskan pentingnya pendekatan akademik, dialog terbuka, dan kolaborasi multipihak dalam membangun literasi sawit yang objektif dan berimbang.

Sinergi kampus, industri, dan pemerintah diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang memahami sawit sebagai komoditas strategis nasional sekaligus bagian dari kehidupan sehari-hari yang perlu dikelola secara berkelanjutan, inovatif, dan bertanggung jawab.